Terima kasih atas kunjungannya dan kami mohon untuk mengisi buku tamu dan meninggalkan komentar demi kemajuan blog ini dan menambah pengalaman saya

Rabu, 13 Juni 2018

Selasa, 24 Oktober 2017

Materi Al Qur'an Hadits Kelas 7,8 dan 9

1. Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup umat manusia

Keberadaan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini tentu tidak lepas dari kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan. Tentu dalam menjalankan kewajibannya, kendala dan masalah pasti akan didapati. Kemampuan manusia yang terbatas, pasti akan menjadi inti permasalahan apakah mereka akan mampu melewati kehidupannya dengan baik atau tidak. Maka dalam hal ini, setiap manusia akan membutuhkan pegangan hidup yang akan menuntunnya pada jalan yang lurus. Al-Qur’an dan Hadis akan menjadikan perjalanan hidup manusia terarah, tentunya dengan mengikuti ajaran yang terkandung di dalamnya.

1. Pengertian Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an menurut bahasa berasal dari kata قرأ – يقرأ – قرآن   yang berarti membaca bacaan. Al-Qur’an berarti bacaan yang sempurna.
Kesempurnaan al Qur’an sebagai bacaan dibandingkan dengan bacaan yang ada dibuktikan dengan:
1. dibaca oleh ratusan juta manusia, meskipun mereka tidak tahu artinya dan tidak dapat menulis aksaranya
2. diatur tatacara membacanya, panjang pendeknya, tebal tipis ucapannya, sampai pada etika membacanya
3. dipelajari susunan kata dan kosa katanya, dan juga makna kandungannya
4. dan lain-lain.
Sedangkan Al-Qur’an menurut Istilah adalah: Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW secara berangsur-angsur melalui malaikat Jibril dan membacanya adalah ibadah. Rasulullah banyak menerima wahyu dari Allah baik seca ra langsung maupun perantara Malaikat Jibril dan dibukukan, tetapi tidak disebut Al Qur’an dan membaca tidak dinilai ibadah.
Dari kutipan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril, pembawanya Nabi Muhammad saw., susunannya dimulai dari surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, membacanya bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Muhammad saw., keberadaannya hingga kini masih tetap terpelihara dengan baik, dan pemasyarakatannya dilakukan secara berantai dari satu generasi ke generasi lain dengan tulisan maupun lisan.
Hadis biasa juga dimaknai dengan Sunnah, Selain Al-Quran, pedoman utama bagi umat Islam adalah Sunah Nabi. mengikuti Sunah Nabi merupakan bukti kecintaan kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran:31

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Mengikuti Sunah Nabi akan menghindarkan umat dari kesesatan dan bid'ah, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تركت فيكم أمــرين لن تضـلوا أبدا ما إن تمسكتم بهما كتاب الله وسنـــة رسولــــه (رواه مسلم)
Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untukmu sekalian, dan kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” HR. Muslim
Hadis berasal dari kata حَدَثَ yang berarti baru, peristiwa, muda, perkataan, cerita. Adapun menurut istilah Hadis adalah segala sikap, perkataan, perbuatan dan  penetapan/ persetujuan (taqrir) Rasulullah SAW. Sunah Nabi direkam dalam hadis, yang dihafalkan, disebarkan dan ditradisikan oleh para sahabat, tabi'in, para ulama.
Secara harfiyah/bahasa, As-Sunah/hadits  berarti jalan hidup yang dibiasakan, berita, perkataan, yang dihafalkan, disebarkan dan ditradisikan oleh para sahabat, tabi'in, para ulama.terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk

2. Keistimewaan Al-Qur’an

Sebagai pedoman hidup umat manusia, Al-Qur’an memiliki beberapa keistimewaan dan kelebihan dibanding kitab-kitab suci lainnya, diantaranya:
a. Al quran memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah dimuat kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, Injil dan lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan yang berupa wasiat. Alquran juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada para rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, keharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lain-lain.
b. Al-Qur’an memuat kalam-kalam Allah yang dijadikan pedoman hidup manusia sepanjang masa sehingga Al-Qur’an memang dikehendaki Allah untuk kekal. Kewajiban kita menjaganya dari serangan pihak-pihak yang menginginkan Al-Qur’an musnah dan mengubah kemurniannya. Meskipun kita tidak mampu menjaganya, maka Allah pasti akan menjaganya, dan Allah sebaih-baik Dzat Yang Maha Menjaga.
c. Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Sehingga seluruh fenomena yang terjadi di  alam semesta yang merupakan ciptaan Allah juga tidak akan pernah kontradiktif dengan apa yang Dia ciptakan. Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Alquran. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri.
d. Alquran diturunkan oleh Allah Taala dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapa pun untuk  memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat. Allah SWT menghendaki agar Al-Qur’an dapat disyiarkan kepada akal pikiran dan seluruh pendengaran sehingga dapat menjadi kenyataan dan perbuatan.
 
3. Al-Hadis warisan Rasulullah SAW

Al-Hadis memiliki kedudukan yang penting setelah Al-Qur’an. Ilmu ini telah menjadi perhatian ulama sejak awal perkembangan Islam hingga saat ini. Namun dalam perjalanannya al-Hadis, Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat untuk mencatat hadis-hadis karena khawatir akan bercampur dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Istilah lain yang identik dengan al-hadis adalah as-sunnah, namun beberapa ulama membedakan pengertian keduanya. Kelompok muhadditsin (ahli hadis) mengemukakan pengertian as-sunnah adalah “segala sesuatu yang dinukil dari Nabi  Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat lahir dan bathinnya ataupun perjalanan hidupnya sejak sebelum diangkat menjadi Rasul seperti bertahannust di gua Hira’ maupun sesudah diangkat menjadi Rasul.”
Pengertian as-sunnah inilah yang identik dengan al-hadis. Meskipun beberapa ulama membedakan bahwa al-hadis adalah segala sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad SAW adapun as-sunnah adalah amalan-amalan yang dilakukan Nabi SAW dan para sahabatnya yaitu kebiasaan yang hidup di masa Nabi SAW.
al-Hadis dibedakan menjadi:
a. Hadis Qauly, yaitu hadis-hadis yang yang diucapkan Nabi SAW dalam berbagai bidang
b. Hadis Fi’ly, perbuatan-perbuatan Nabi SAW yang sampai kepada kita melalui penukilan sahabat
c. Hadis Taqriry, keadaan Nabi SAW yang mendiamkan, tidak berkomentar dan tidak menyanggah serta menyetujui apa yang dilakukan oleh para sahabatnya.

4. Fungsi Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam,baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri,hubungan manusia dengan Allah SWT,hubungan manusia dengan sesamanya,dan hubungan manusia dengan alam.
Fungsi Al-Qur’an secara garis besar dapat di kelompokkan sebagai berikut:



Adapun fungsi Al-Hadits secara umum adalah sebagai sumber ajaran/ hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an dan Al-Hadist mempunyai peranan yang sangat penting terhadap keberadaan Al-Qur’an, karena sebagian Ayat Al-Qur’an memang merupakan ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan dan perincian, oleh karena itu Al-Hadis memiliki peran yaitu:








Kebesaran Allah terlihat di alam semesta

Tauhid adalah hal terpenting bagi kehidupan seorang manusia. Bagaimana tidak, karena hanya amal yang dilandasi dengan tauhidillah saja yang akan membawa pelakunya pada kebahagiaan haqiqi, di dunia dan diakhirat kelak. Kekuatan aqidah kita juga banyak ditentukan sejauh mana pemahaman dan pengamalan kita akan tauhid tersebut. Allah berfirman dalam QS.an-Nahl 97

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل:97)


“Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl, 97 )

Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya.Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan SifatNya. Apakah sebenarnya tauhid itu?

Allahku…Esa

Tauhid berasal dari bahasa Arab وحد – يوحد – توحيد   yang artinya mengesakan. Menurut istilah Tauhid adalah meyakini bahwa Allah itu hanya satu, tidak ada yang menyamaiNya, tidak setara dengan apapun, tidak mungkin ada yang menandingiNya.
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya. Lawan tauhid adalah syirik, dimana syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

ISI KANDUNGAN QS.AL-FATIHAH, QS. AN-NAAS, QS. AL-FALAQ DAN QS. AL-IKHLAS

Tafsir QS. al-Fatihah

Ayat Terjemah Lafaz Ayat
1 Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang     
2 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam     
3 Maha Pemurah lagi Maha Penyayang   
4 Yang menguasai di hari Pembalasan    
5 Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan     
6 Tunjukilah kami jalan yang lurus,    
7 (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.          

Penjelasan surat

Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) merupakan salah satu nama lain yang disandang Al-Qur’an. mengapa demikian? Karena  isi kandungan ketujuh ayatnya merupakan intisari dari Al-Qur’an. Sebagimana yang dikutip M. Quraisy Shihab dalam tafsirnya , Abul Hasan Al-Harralli menjelaskan bahwa al-Fatihah adalah induk Al-Qur’an, karena ayat-ayat Al-Qur’an seluruhnya terinci melalui kesimpulan yang ditemukan pada ayat-ayat al-Fatihah.

Tiga ayat pertama dalam surat al-Fatihah mencakup makna-makna yang dikandung oleh asmaa’ul Husna. Semua rincian yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menyangkut Allah bersumber dari ketiga ayat pertama itu. Ajaran tauhid yang terkandung dalam ketiga ayat pertama tersebut adalah sifatiyah (asma dan sifat), artinya kita meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat keutamaan sebagaimana yang tersirat pada ayat-ayat tersebut yang mengandung arti pula bahwa Allah dengan segala sifat keutamaanNya (ayat 1), telah mencurahkan segenap kasih sayangNya kepada kita, menciptakan dan mengatur alam semesta untuk kita. Dialah Sang Penguasa alam (ayat 2) sehingga hendaknya kita mengakui dan meyakininya dan memuji kebesaranNya yang telah menciptakan kita semua.
FirmanNya dalam ayat 5 yang artinya “Yang menguasai di hari Pembalasan” mengandung 2 makna yaitu 1) bahwasanya Allah yang menetukan dan Dia pula satu-satunya yang mengetahui kapan tibanya hari itu. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahui hal tersebut 2) Allah menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apapun yang terdapat ketika itu. Maka jangan bertindak atau bersikap menentangNya , bahkan berbicarapu harus dengan izinNya.

Segala sesuatu yang menjadi penghubung antara makhluk dengan Khaliq terinci dalam firman-Nya pada ayat  “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. ada kupasan menarik dari mufassir Quraisy Syihab dalam tafsir al-MIsbah bahwasannya kata “kami” yang digunakan pada ayat ini mengandung beberapa pesan:
Pertama, untuk ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan. Seorang muslim harus merasa bersama orang lain, tidak sendirian. Atau dengan kata lain seorang muslim harus memiliki kesadaran social
Kedua, ibadah hendaknya dilakukan bersama-sama. Karena jika kita melakukannya bersama-sama, orang lain yang bersama kita akan menutupi kekurangan kita.

Pada ayat 6 “ihdina as-shirath al-Mustaqim” mencakup segala yang meliputi urusan makhluk dalam mencapai Allah dan menoleh untuk meraih rahmat-Nya serta mengesampingkan selain-Nya. Sungguh hanya kepadaNyalah kita berharap agar menunjukkan kita arah tujuan yang benar.


Tafsir QS. An-Naas

Ayat Terjemah Lafaz Ayat
1 Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.    •• 
2 Raja manusia.
 •• 
3 Sembahan manusia.  •• 
4 Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,   • •• 
5 Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.  •   • 
6 Dari (golongan) jin dan manusia.
 • •• 

Penjelasan surat

Surat an-Naas merupakan salah satu surat disebut dengan al-mu’awwidzatain yaitu dua surat yang mengandung perlindungan. Surat lainnya yaitu al-Falaq. Perlindungan yang dimaksud di sini adalah yang utama adalah memohon perlindungan dari iblis dan bala tentaranya yaitu setan manusia dan setan jin yang senantiasa mengintai manusia dengan tanpa putus asa dan berbagai cara.  Al Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membawakan penafsiran dari Sa’id bin Jubair dan Ibnu ‘Abbas, yaitu: “Syaithan bercokol di dalam hati manusia, apabila dia lalai atau lupa maka syaithan menghembuskan was-was padanya, dan ketika dia mengingat Allah subhanahu wata’ala maka syaithan lari darinya.
Dalam sebuah hadis yang riwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Abu Tamimah yang meriwayatkan dari seseorang yang pernah membonceng Nabi SAW katanya
عثر بالنبي صلى الله عليه وسلم حماره فقلت تعس الشيطان. فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا تقل تعس الشيطان إذا قلت تعس الشيطان تعاطم وقال بقوتى صرعته وإذا قلت باسم الله تصاغر حتى يصير مثل الذباب
“Keledai Nabi SAW terjatuh, lalu aku mengatakan “calakalah setan” lalu Nabi berdabda. ‘janganlah kamu katakana ‘celakalah setan’ sebab ia akan semakin besar tubuhnya dan mengatakan ‘dengan kekuatanku aku akan mengalahkannya.’ Namun apabila kamu mengatakan bismillah maka ia akan mengecil sehingga menjadi sekecil lalat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad namun sanadnya bagus.

Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah subhanahu wata’ala adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya subhanahu wata’ala. Termasuk Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat bergantung.
Ajaran tauhid juga jelas tersirat dalam isi kandungan surat an-Naas ini, mengingat penghambaan manusia yang dalam kepada Allah sebagaimana dijelaskan pada ayat 3 akan mengantarkan rasa ketidakberdayaannya dan menyandarkan hanya kepada Allah SWT dari semua kejahatan yang dibisikkan syaitan.
Maka sudah sepantasnya bagi kita selalu memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata. Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya subhanahu wata’ala. Semua kejadian ini terjadi atas kehendak-Nya subhanahu wata’ala. Dan tiada yang bisa memberikan pertolongan dan menolak mudharat kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wata’ala pula.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa meminta pertolongan, perlindungan dan mengikhlaskan seluruh peribadahan hanya kepada-Nya.


Tafsir QS. Al-Falaq

Ayat Terjemah Lafaz Ayat
1 Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,     
2 Dari kejahatan makhluk-Nya,     
3 Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,      
4 Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.   •   
5 Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”      

Penjelasan ayat

Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai arti al-Falaq. Namun Imam Bukhori dalam shohihnya mengartikan Al-Falaq dengan subuh.  Dalam surat ini dijelaskan beberapa kejahatan yang mengintai manusia. yang oleh karenanya kita diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah Sw sang penguasa alam.
Pada ayat 2 yang berarti “dari kejahatan makhluk-Nya” mengandung pengertian bahwa makhluk Allah baik dari manusia, binatang atau makhluk lainnya dengan segala yang dilakukannya terkadang menimbulkan bahaya bagi manusia.  selain itu ada hal lain yang perlu diwaspadai manusia yaitu malam dengan segala misteri di dalamnya.
Dalam ayat 4 dijelaskan adanya kejahatan sihir yang menggunakan kekuatan setan untuk mengganggu manusia.  Imam Ahmad dengan sanadnya menyatakan bahwa Zaid bin Arqam berkata “Rasululllah SAW pernah disihir oleh salah seorang pemuda Yahudi. Dan selama beberapa hari beliau mengadukan hal itu. Lalu beliau mengatakan ‘lalu datanglah Jibril dan mengatakan “salah seorang Yahudi telah menyihirmu dan telah membuatkan ikatan untukmu di sumur ini dan ini. Perintahkanlah kepada seseorang untuk pergi ke sana, lalu iapun mengeluarkannya.  Kemudian dibawa kepada Nabi dan beliau pun melepaskan ikatannya. Kemudian beliau berdiri, seolah-olah beliau telah bebas dari belenggu. Namun hal tersebut tidak diberitahukan kepada orang Yahudi dan beliau tidak pernah melihat wajahnya lagi hingga mati.”  Dan masih banyak lagi riwayat yang menerangkan adanya sihir yang menimpa Nabi Muhammad SAW.
Kejahatan sebagaimana dijelaskan di surat ini, semakin nyata keberadaannya. Ini tidak hanya mengintai orang-orang dewasa, namun kita sebagai pelajar, kejahatan-kejahatan itu juga dekat dengan keseharian kita. Bayangkan, alangkah tenang kehidupan kita jika kita senantiasa menyandarkan seluruh aktivitas kita baik kegiatan belajar kita, membantu orang tua, bermain dengan teman, berolah raga   hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan insyaAllah perlindungan Allah akan senantiasa kita rasakan dan dekat dengan kita.

Tafsir QS. Al-Ikhlas

Ayat Terjemah Lafaz Ayat
1 Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.     
2 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.   
3 Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,     
4 Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."    •  

Penjelasan Ayat

Asbabun nuzul dari surat ini adalah sebagaimana diterangkan dalam riwayat Imam Ahmad bahwa orang-orang musyrik telah mengatakan kepada Nabi SAW “Hai Muhammad, terangkanlah nasab Tuhanmu kepada kami lalu Allah menurunkan wahyu “katakanlah, dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Ayat 1, Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa artinya Dia Satu dan Tunggal, yang tidak mempunyai bandingan, wakil, saingan, yang menyerupai dan yang menyamaiNya. Lafal ini tidak boleh digunakan kecuali hanya kepada Allah sebab Dialah Yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatanNya.”
Firman Allah dalam ayat 2 “Allah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu” Ibnu Abbas ra mengatakan “Ash-Shamad” ialah Yang semua makhluk menyandarkan diri kepadaNya dalam setiap kebutuhan dan permasalahan mereka.
“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan “ dalam ayat 3 menjelaskan bahwa Allah tidak memiliki keluarga yaitu yang beranggotakan anak, ayah, isteri. Dan dilanjutkan dengan ayat terakhir bahwasannnya Allah tidak sama dengan semua makhluk. Yaitu tidak ada seorangpun tandingan dari makhlukNya yang akan menyainginya atau yang menyamai kedudukanNya. Allah Maha Tinggi dan Mahas suci dari semua itu.
Dalam surat ini jelas dikatakan bahwa pengesaan terhadap Allah mutlak harus kita lakukan sepenuh hati,  dimana sifat Allah yang tidak mungkin dimiliki oleh makhlukNya adalah Esa, tunggal.  Sehingga keyakinan akan hal ini semakin memperkuat dan memurnikan tauhid kita. Sehingga kita hanya mempersembahkan semua penghambaan kita hanya kepadaNya.





A. IMAN DAN IBADAH

Berbicara masalah keimanan tidak bisa terlepas dari ibadah. Mengapa? Karena ibadah adalah aktualisasi dari keimanan. Dan keimanan dapat menjadi sempurna dengan pelaksanaan ibadah, karena ibadah adalah buah keimanan. Banyak orang berpikir bahwa beribadah itu adalah melaksanakan sholat, puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan ibadah haji. Padahal tidak hanya demikian. Saat seseorang melaksanakan aktivitas dan Allah ridha terhadapnya, maka itu juga dapat disebut ibadah. Sehingga ibadah tidak hanya meliputi perbuatan yang syarat dan rukunnya sudah ditentukan syar’i,yang kita dapat menyebutnya sebagai ibadah mahdhah, melainkan ada pula perbuatan yang syarat dan rukunnya tidak ditentukan syar’i yang kita dapat menyebutnya ibadah ghairu mahdhah. Adapun keimanan adalah hal paling utama dalam kehidupan manusia, mengapa? Karena pelaksanaan ibadah yang luar biasa tidak akan ada nilainya tanpa didasari keimanan.

1. Mutiara iman dalam diri manusia

Iman dalam kehidupan manusia diibaratkan mutiara dan cahaya dalam hatinya. Sehingga tanpa iman, maka kehidupan manusia akan  menjadi gelap. Tanpa iman maka jalan hidup seseorang bagaikan tanpa arah tujuan, karena tidak ada orientasi tertentu dalam perjalanannya. Iman tidak hanya sekedar keyakinan dalam hati, namun juga diikrarkan di lisan, dan dilaksanakan dengan anggota badan:

الإيمان معرفة بالقلب وقول باللسان وعمل بالأركان
“Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan, dan dilakukan dengan anggota badan (perbuatan)”

Hadis tersebut menjelaskan 3 hal yang menjadi unsur penting sebuah keimanan. Yaitu 1) hati yang meyakini, 2) lisan yang mengikrarkan dan 3) anggota badan yang selalu menerapkan dalam perbuatannya.
Kecintaan kita kepada Allah, tentulah diawali dari keyakinan kita akan keberadaanNya kemudian lisan kita dengan penuh kesadaran mengikrarkannya selanjutnya tentulah tanpa paksaan sedikitpun kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan kita. Itulah kecintaan yang sempurna kepada Allah. Itulah keimanan yang haqiqi kepada Allah. Sehingga ia meletakkan keimanan kepadaNya pada tempat tertinggi dibanding kecintaannya kepada apapun. Begitu pula dengan rukun keimanan lainnya, karan tentulah tidak sempurna keimanan kita, jika hanya mengimani Allah tanpa Malaikatnya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir dan taqdir baik buruk yang kita terima, sebagaimana hadis riwayat Muslim

قَالَ (جبريل) فَأَخْبِرْنِى عَنِ اْلإِ يْمَانِ قَالَ: أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَ كُتُبِهِ وَ رُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. رواه مسلم

(Jibril) berkata: beritahukanlah padaku tentang iman! Jawab Nabi SAW: Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasulNya, kepada hari kiamat, dan beriman kepada Qadar yang baik serta yang buruk. HR.Muslim

Dalam konteks sosial, dimana manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi, maka keimanan seseorang menjadi hal yang mutlak dimiliki. Bagi kita umat Islam, tidak ada lagi istilah “ini aku dengan segala keimananku” namun yang harus disebarkan dan ditebarkan adalah inilah keimananku dengan kasih sayangku. Maka sebagai pelajar hendaknya kita tidak tenggelam dalam rutinitas religi kita dengan mengesampingkan kawan-kawan di sekitar kita. Mengapa demikian, karena Rasulullah SAW sebagai tuntunan kita pun mengajarkan bahwa kebaikan untuk orang lain juga termasuk kesempurnaan iman, sebagaimana disabdakan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Abu Hamzah, Anas bin Malik.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "لَنْ يُؤْمِنَ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ"
Rasulullah SAW bersabda: “tidaklah sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
 
Namun sangat perlu kita ketahui, bahwasannya iman memiliki banyak cabang yang dapat kita amalkan, sebagaimana hadis yang diriwayatkan

قال رسول الله ص.م : اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَ الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Iman terdiri dari 71 cabang yang paling utama ucapan Laa ilaaha Illallah, yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan adapun malu adalah sebagian dari iman.

2. Ciri ibadah yang diterima Allah

Berapa banyak orang yang melaksanakan perbuatan baik, namun menjadi sia-sia di mata Allah, perbuatan yang dilakukannya hanya berhenti sampai di dunia saja, tidak dapat memberinya manfaat bagi dirinya sampai kehidupan akhirat. Mengapa demikian? Karena ada hal-hal yang belum terpenuuhi, diantaranya:

a. Didasari keikhlasan karena Allah semata

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadistnya
"يَآأيُّهَا النَّاسُ أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ للهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ اْلأَعْمَالِ إِلاَّ مَا خَلَصَ لَهُ"
“wahai manusia, ikhlaskan seluruh amalmu karena Allah, sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali didasari keikhlasan karenaNya.”


b. Sesuai tuntunan Rasulullah SAW

Selain keikhlasan, ada hal penting lain yang harus dipahami bagi setiap muslim dalam melaksanakan ibadah sebagai aktualisasi keimanan. Yaitu, melaksanakan seluruh amal perbuatan dengan tidak asal-asalan dalam menjalankan dan sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   (رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ )
Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.
Dalam hal perbutan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah, tentu kita sering mendengar istilah bid’ah. Bid’ah adalah sesuatu yang baru atau sesuatu yang tidak sama dengan contohnya. Namun dalam islam, tidak semua bid’ah dilarang. Bid’ah hasanah adalah hal yang belum ada pada zaman Rasulullah,






Allah menciptakan manusia dengan beragam. Dari jenis kelamin, warna kulit, rambut, wajah, pemikiran, sikap, sifat dan sebagainya. Kesemuanya itu bukti nyata bahwa keberagaman itu memang benar adanya. Dalam sejarah bangsa kita, kita mengenal istilah bhinneka tunggal ika, yang berarti bahwa Negara kita Indonesia tidak berasal dari satu jenis. Melainkan berbagai macam agama, suku, budaya, bahasa dan adat istiadat. Namun hal tersebut bukanlah penghalang bangsa menuju persatuan dan kesatuan. Hal tersebut sesuai dengan ajaran Islam bahwasannya manusia  diciptakan Allah Swt dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sehingga memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Untuk itu Manusia harus saling menghargai agar terwujud kehidupan yang rukun, aman dan sejahtera. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat 13

 ••           •      •    
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Toleran menciptakan kedamaian

Tiada henti hati kita berdecak kagum jika mengingat kisah Rasulullah SAW dengan keluhuran akhlaknya dan kemuliaan budi pekertinya. Untaian kata yang tidak pernah melukai, sikap diri yang sangat hati-hati dan keteguhan hati yang tak tertandingi. Subhanallah, bahkan di kalangan kaum kafir Quraisy beliau dikenal dengan “al-amiin” yang artinya dapat dipercaya. Di kalangan Yahudi beliau sangat terkenal dengan toleransinya. Toleransi yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW terhadap agama-agama lain sangat jelas sebagaimana terungkap dalam sejarah. Pernah suatu saat para pendeta dari agama Nasrani datang kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui tentang agama Islam. Dalam beberapa hari mereka hidup bersama umat Islam. Pada suatu saat sampailah mereka pada hari Ahad, hari dimana bagi orang Nasrani adalah hari beribadah untuk mengagungkan Tuhannya. Rasulullah SAW memberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan itu. Namun di lingkungan umat Islam itu tidak ada gereja untuk mereka gunakan melakukan ritual ibadah, maka problem seperti ini disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW merelakan dan mempersilakan para pendeta itu untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya di masjid. 
Toleran adalah sifat atau sikap suka menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang erbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri. Dengan kata lain toleran yaitu memberi kebebasan kepada orang lain untuk bersikap atau berpendirian sesuai dengan keinginannya. Konsep dalam Islam yang paling dekat dari segi pengertian dengan konsep toleransi barat ialah tasamuh yang berarti sikap pemurah, penderma, dan gampangan. Atau juga dapat diartikan dengan mempermudah, memberi kemurahan dan keluasan. Dalam konteks ibadah, tasamuh berarti memberi kemudahan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah, seperti sholat jama qasar dalam perjalanan ataupun tayammum jika tidak dapat menemukan air untuk berwudhu. Namun dalam hal sosial, tasamuh akan sangat bermakna bagi kehidupan manusia, karena kemudahan dan kebebasan diberikan kepada orang lain untuk berpikiran yang berbeda dengan pemikirannya, melaksanakan ibadah yang berbeda dengan ibadah yang dilakukannya. Sehingga akan terjalin kehidupan yang harmonis dan saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Fanatik penyeimbang sikap Toleran

Fanatik adalah teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya). Adapun dalam Islam, fanatik berarti sikap istiqamah, memiliki keyakinan yang kuat dan mantap dalam hati terhadap agamanya sehingga ia akan sungguh-sungguh melaksanakan ajaran Islam. Dalam konteks social, sikap fanatic ini akan dapat membentengi dirinya dari hati yang mudah terombang-ambing dan mudah dipengaruhi. ia tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak punya pendirian yang teguh. Adapun orang yang kuat memegang teguh kepercayaannya namun memandang rendah kepercayaan orang lain dapat disebut ta’assub.
Ada dua Istilah islam tentang sikap fanatic; 1) Istiqamah adalah keteguhan hati dan 2) Ta’ashub adalah fanatic buta. Dari dua istilah tersebut menunjukkan fanati memiliki positif dan negatif. Sehingga fanatic yang berlebihan akan sangat membahayakan bagi kerukunan hidup umat Islam dimanapun berada. Kisah tentang sikap fanatic buta di zaman Rasulullah dikisahkan dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Dinar rahimahullah dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu,ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ الأَنْصَارِىُّ يَا لَلأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِىُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ. فَقَالَ « دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ »
”Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak:‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak:‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!.’ Mereka berkata:‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda:‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk.’” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

Belajar Toleransi dari QS. Al-Kafiruun dan QS. Al-Bayyinah

QS. AL-KAFIRUN

Ayat Terjemah Bunyi ayat
1 Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,    
2 Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.     
3 Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.      
4 Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
   •  
5 Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah      
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
    

Penjelasan Surat

Turunnya QS. Al-Kafirun dilatarbelakangi oleh ajakan kaum musrikin Quraisy yang selalu berupaya untuk membendung dakwah Rasulullah SAW dengan bujukan sampai dengan cara penyiksaan dan intimidasi mengalami kegagalan. Akhirnya ada gagasan untuk mengajak kompromi Rosulullah SAW. Mereka mengajak Rasulullah beserta para sahabat untuk menyembah tuhan mereka dengan cara mereka menyembah selama 1 tahun,kemudian 1 tahun berikutnya mereka bersedia untuk menyembah Allah SWT dengan tuntunan Rasulullah. Dari peristiwa itu lalu Allah mewahyukan kepada Rasulullah SAW sebagai respon ajakan kaum musrikin Quraisy.
Dari peristiwa yang melatarbelakangi turunnya surat ini dapat diketahui bahwa ayat-ayat dalam QS. Al-Kafirun adalah jawaban Rasulullah SAW atas ajakan kaum Quraisy untuk bertukar keyakinan. Namun Rasulullah dengan tegas menolak dengan mengatakan “aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah” dan beliaupun menyatakan bahwa mereka orang-orang kafir Quraisy pun tidak akan dengan ikhlas dan sepenuh hati menyembah Allah sebagaimana yang mereka janjikan. Dan pada ayat terakhir semakin jelas sikap yang ditunjukkan Rasulullah dalam hal aqidah, bahwasannya dalam hal beribadah maka kita berhak untuk melaksanakan ajaran sesuai dengan tuntunan agama kita. Sebagaimana mereka pun bebas melaksanakan aktivitas peribadatan sesuai dengan kepercayaannya. “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” ayat ini selaras dengan QS. Al-Baqarah:256 

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.…” 
Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya Allah menghendaki setiap orang merasakan kedamaian. AgamaNya dinamakan Islam, yakni damai. Kedamaian tidak akan diraih kalau jiwa tidak damai, dan paksaan menyebabkan jiwa tidak damai. Karena itu tidak ada paksaan dalam menganut keyakinan agama Islam. Namun begitu, telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat. Sehingga jika sudah mengetahui, maka tidaklah perlu paksaan itu dilakukan. Allah menghadirkan pilihan. Barang siapa yang ingin selamat maka janganlah menempuh jalan sesat dengan menyembah selain Allah. Wallahu alam bis shawab.

QS. Al-Bayyinah

Ayat Terjemah Bunyi ayat
1 Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,             
2 (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),       
3 Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus[1594].    
4 Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.            
5 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.             •     
6 Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. •         •        
7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.          
8 Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.    •                    


Penjelasan surat
Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “munfakkiina” (tidak akan meninggalkan) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah. Hal ini merupakan sikap fanatic mereka dalam mempertahankan keyakinan mereka.
“Sehingga datang kepada mereka bukti yang nyata” yaitu al-Qur’an ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman dalam ayat 1 yang artinya “Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”  kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firman-di ayat 2 yang berarti Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan al-Qur’an” yakni Muhammad saw. Dan al-Qur’an al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul a’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.
Ayat 3 dalam surat ini dijelaskan oleh Ibnu Jarir “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.
Dalam surat Ali Imran: 105 Allah berfirman yang artinya “janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”  Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah  dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan. hal tersebut sama dengan penjelasan firman Allah dalam QS. Al-Bayyinah ayat 4.
Ayat 6-8 menjelaskan balasan dan ganjaran bagi orang kafir Ahul Kitab dan juga orang-orang musyrik yang menolak kitab-kitab Allah yang diturunkan serta menentang Nabi-nabi Allah yang diutus, bahwa pada hari kiamat kelak tempat mereka adalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan pindah dari neraka itu untuk selamanya dan Allah Ta’ala juga menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat baik, yaitu yang beriman dengan sepenuh hati dan mengerjakan amal shalih dengan badan mereka bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Mereka akan mendapatkan balasan surge And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Belajar hadis tentang toleransi

Rasulullah SAW meninggalkan mutiara indah bagi kita umat islam setelah setelah beliau wafat. Kita dapat mengambil hikmah dan meneladani sifat-sifat beliau dari peninggalan beliau tersebut. itulah al-Hadis yang keberadaannya dapat mendekatkan jiwa kita kepada beliau, yang keberadaannya mampu memperkuat wawasan keislaman yang telah kita pelajari dari al-Qur’an. Toleransi salah satu sifat unggul beliau pun dapat kita ketahui dari al-Hadis. Maka kita lestarikan hadis ini dengan menghafalkan dan mempelajari isi kandungannya.

Berbuat baik kepada sesama

عَنِ ابْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ (أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ

dari Ibnu `Amr RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap sesama saudaranya. Dan, sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَ أَبُو يَعْلَى)
Dari Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi (Allah) yang jawaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim dan Abu Ya’la: 2967).
Mustahil jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk social yang diciptakan Allah sehingga kehidupannya tidak akan lepas dari interaksi dengan orang lain. Baik ayah, ibu, isteri, suami, anak, saudara, teman, tetangga dan relasi lainnya. Dalam berinteraksi, pergesekan akan sangat mungkin terjadi. Jika tidak diantisipasi, hal ini dapat menimbulkan konflik. Dalam bertetangga misalnya, jika seseorang tidak berhati-hati dalam bersikap dan berucap, maka bukan tidak mungkin kesalahpaham akan terjadi. Karena masing-masing individu memiliki perbedaan-perbedaan yang jika kita tidak menghargai perbedaan tersebut,dan saling ingin menang sendiri, merasa baik sendiri, merasa benar sendiri, maka tali persaudaraan pasti akan terputus, dan kerukunan tidak akan bisa terjalin baik, maka hadis tersebut menginngatkan kita agar lebih bisa memposisikan diri kita sebagai orang yang lebih bisa menghargai dan berusaha untuk bisa berbuat baik, dengan tanpa meninggalkan batas-batas norma agama dan social yang berlaku .



B. IMAN DAN IBADAH

Dakwah berasal dari kata bahasa Arab دعا – يدعو – دعوة   yang berarti menyeru. Menurut istilah dakwah adalah ajakan untuk berbuat baik dan beriman kepada Allah SWT sesuai dengan syariat Islam. Dalam perkembangan Islam, dakwah Rasulullah SAW untuk menyeru kepada kebenaran tidak akan pernah kehabisan cerita. Mulai cerita tentang dimulainya tugas dakwah secara sembunyi-sembunyi, kekerasan hati kaum kafir Quraisy, usaha orang-orang kafir untuk menyelakai beliau, sampai beliau diutus untuk hijrah ke Yastrib hingga beliau kembali ke kampung halaman Makkah Al-Mukarramah pada saat fathu Makkah. Rasulullah SAW dengan keluhuran akhlaknya, keindahan tutur kata, kebaikan perilakunya hingga ucapannya yang tidak pernah bohong, mampu menjadikan kaum kafir Quraisy percaya dan memberinya julukan ”al-Amiin”. Meskipun mereka mengingkarinya dan enggan mengikuti ajaran Islam.
Diantara kisah tentang dakwah Rasulullah adalah saat beliau disiksa secara luar biasa oleh kaum kafir Quraisy tersebut, saat beliau dilempari kotoran, saat beliau dicaci maki, difitnah hingga rencana pembunuhan terhadap beliau yang tak pernah terwujud. Bagaimana Rasulullah SAW menyikapi hal tersebut? Marahkah beliau? Sekali-kali tidak. Beliau sangat sabar, tabah dan mendoakan mereka agar mereka mendapat hidayah.

Optimis dan Istiqamah adalah Inti Perjuangan

Adalah hal yang wajar saat seseorang harus mencapai keberhasilan dengan perjuangan. Dan dalam proses mencapai keberhasilan, kendala dan kesulitan pasti akan ikut mewarnai proses perjuangan. Rasulullah SAW berjuang menyebarkan risalah kebenaran di tengah-tengah kekerasan hati kaumnya. Namun dengan ketabahan dan penuh istiqamah beliau mampu melaluinya. Wali songo berusaha untuk menanamkan tauhid pada penduduk yang masih awam sekali dan dengan istiqamahnya hal tersebut juga dapat dikatakan menuai keberhasilan dan masih banyak lagi kisah yang lain. Maka bagi kita para pelajar, tidak perlu mengeluh apalagi meratapi kesulitan kita untuk mencapai apa yang kita harapkan.

Istiqamah adalah sikap teguh pendirian, dan konsekuen dalam tindakan. Istiqamah adalah sikap hati yang tidak mudah patah, tidak mudah diguncang badai dan istiqamah adalah sikap memegang teguh kebenaran. Seseorang yang istiqamah pastilah tidak akan goyah walaupun diterjang gelombang besar. Maka sikap istiqamah merupakan sikap positif yang harus dimiliki seorang muslim, termasuk pelajar yang sedang dalam masa perjuangan menggapai cita dan asa.

Berbicara masalah perjuangan dan keberhasilan, maka sikap optimis dan istiqamah mutlak harus bersanding. Dimana keteguhan hati yang tidak mudah tergoyahkan harus diiringi dengan sikap optimis akan keberhasilan. Sebagai pelajar, hendaknya ia bersikap optimis dan istiqamah dalam menuntut ilmu, melaksanakan kewajiban-kewajibanya, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Allah juga memperhatikan pentingnya sikap istiqamah ini, sebagaimana firmanNya dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:
عن أبي عَمرو وقيل أبي عَمرة سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله! قُل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك؟ قال: "قل آمنتُ بالله، ثم استقم" رواه مسلم.

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah Al-Tsaqafiy radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu.’ Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu." (HR. Muslim).
Kedua dalil naqli tersebut sangatlah identik. Keduanya mengajarkan pentingnya sikap istiqamah dalam kebenaran. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengamalkannya dalam kehidupan kita.  Istiqamah sangat berpengaruh kepada keberhasilan kita. Dalam kaitannya dengan dakwah, maka sikap istiqamah mutlak sangat diperlukan untuk tetap berbuat baik dan dapat menyebarkan kebaikan.


A. ISI KANDUNGAN QS. AL-LAHAB DAN AN-NASHR TENTANG ISTIQOMAH DALAM BERDAKWAH

QS. Al-Lahab



Ayat Terjemah Bunyi ayat
1 Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa      
2 Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan       
3 Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak     
4 Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar    
5 Yang di lehernya ada tali dari sabut     • 

Di dalam surah ini Allah menceritakan kisah Abu Lahab dan isterinya yang menentang Rusulullah saw.. Keduanya akan mendapat kecelakaan dengan dimasukkan kedalam api neraka sedangkan semua harta kekayaan mereka pada saat  itu tidak akan dapat menolongnya, demikian juga segala usaha-usahanya.
Yang dimaksudkan dengan tangan Abu Lahab dalam surah ini ialah diri Abu Lahab sendiri, dan isterinya yang bernama Arwa binti دجHarb (Umi Jamil saudara Abu Sufyan) digelar dengan gelaran 'pembawa kayu api' adalah kerana ia selalu menyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan Nabi saw. dan kaum muslimin. Betapa perjuangan Rasulullah pada saat ini benar-benar berat mengingat problem dan kendala bersumber dari kerabat beliau sendiri, paman beliau sendiri yaitu Abu Lahab dan isterinya.
Dalam ayat 2 dijelaskan bahwa abu Lahab pernah mengatakan “jika yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka akan kutebus diriku diriku di hari kiamat nanti dengan isteri dan anakku.” Maka turunlah ayat kedua yang artinya “tidaklah berguna baginya hartanya dan yang ia usahkan (anak-anaknya)
Ayat 4—5 menjelaskan tentang vonis hukuman Abu Lahab yang sudah ditentukan oleh Allah dalam al-Qur’an yaitu kelak ia akan mesuk ke dalam bara api yang sangat bergejolak. Hukuman yang demikian juga dialami oleh isterinya yang mendapat julukan pembawa kayu bakar yang dilehernya terdapat tali sabut. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab bahwa dia adalah wanita yang memiliki kalung yang sangat mahal di lehernya. Kemudian ia berkata “aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Nabi Muhammad SAW”) dengan demikian Allahpun memberikan siksaan kepadanya di dalam neraka nanti dengan tali dari sabut.


QS. An-Nasr

Ayat Terjemah Bunyi ayat
1 Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,      
2 Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,  ••      
3 Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.         


Penjelasan Surat

Surat ini memberitahukan tentang dekatnya kematian Rasulullah SAW, maksud ayat 1 dalam surat ini “ketahuilah oleh kamu Muhammad, bahwa bila Engkau telah menaklukkan kota Makkah, kampong halaman yang telah mengeluarkan kamu, dan orang-orang sudah masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka perhatian Kami kepadamu telah berakhir, lalu bersiap-siaplan untuk menghadap Kami. Sebab akhirat adalah lebih baik bagimu daripada dunia. Dan kelak, Tuhanmu akan memberimu pemberian dan kamu akan puas.” Itulah sebabnya maka Allah berfirman “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” Semua sudah sepakat bahwa yang dimaksud dengan kemenangan di sini adalah penaklukan kota Makkah.sebab warga Arab yang tinggal di dusun-dusun menyatakan keislamannya secara berbondong-bondong, dengan kemenangan Rasulullah SAW dan pasukannya. Mereka meyakini bahwa jika dia,Muhammad mampu mengalahkan warganya maka dialah benar-benar seorang Nabi utusan Allah.
Surat ini, akan mengingatkan kita awal pada perjuangan Nabi Muhammad di Makkah sebagaimana dijelaskan pada QS. Al-Lahab, dan akhir dari perjuangan beliau adalah fathu Makkah, dimana umat Islam mampu memasuki kampong halamannya selama kurang lebih 8 tahun ditinggalkannya demi memperoleh rahmat Allah. Mereka rela meninggalkan sanak keluarga, kampong halaman untuk ikut hijrah bersama Rasulullah ke Yasrib. Namun Allah tidak menyia-nyiakan mereka, hingga memberikan kepada mereka kemampuan dan kemenangan dalam menaklukan makkah…sungguh ini merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk tidak berputus asa dalam berjuang, yakinlah pasti Allah akan memberikan jalan keluar dan kemenangan jika kita senantiasa istiqamah dalam kebenaran dan menyampaikan kebenaran.






Ilmu Tajwid dan Sifat Huruf Hijaiyyah
Tajwid menurut bahasa adalah tahsin, yang artinya memperindah. Adapun menurut istilah tajwid adalah membunyikan setiap huruf dari mkhrajnya dengan memberikan setiap huruf hak dan mustahaknya.
Mengetahui atau mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, namun mengamalkannya dalam membaca Al-Qur’an hukumnya fardhu ain, yang berarti semua qari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) wajib menerapkan tajwid saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam ilmu tajwid di kenal istilah sifat-sifat huruf, yang artinya suatu keadaan yang terjadi pada huruf pada saat dibunyikan dalam makhrajnya. Seperti jahr (keras) dan lawannya yaitu al-hams (bisikan) dan lain sebagainya. Dan qalqalah termasuk salah satu sifat huruf yang tidak memiliki lawan kata.

Pengertian Qalqalah

Qalqalah menurut bahasa, artinya bergerak dan bergetar, sedangkan menurut istilah ilmu tajwid, artinya getaran makhraj pada saat mengucapkan huruf tertentu yang disukunkan, sehingga terdengar suara tekanan yang kuat. Huruf qalqalah terdiri dari lima buah yang tergabung di dalam kalimat "قطب جد" yaitu qaf, tha, ba’, jim, dan dal.
Tingkatan qalqalah ada empat  macam:
a. Qalqalah yang paling berat yaitu huruf qalqalah yang di tasydidkan dalam keadaan waqaf
Contoh: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
b. Qalqalah yang pertengahan yaitu huruf qalqalah yang disukunkan dalam keadaan waqaf
Contoh: مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
c. Qalqalah yang ringan adalah huruf qalqalah yang disukunkan dalam keadaan washal.
Contoh: جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
d. Qalqalah yang paling ringan adalah huruf qalqalah yang berharakat
Contoh:  عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Namun pembagian Qalqalah yang paling masyhur ada 2 macam:
a.Qalqalah Sughra
yaitu apabila salah satu huruf qalqalah benar-benar bersukun ashli di tengah kata. Cara membacanya dengan menekan kuat makhraj huruf dari huruf qalqalah yang disukun tersebut sehingga lafaznya memantul dengan kuat dan jelas. Untuk huruf “qaf” dan “tha” pantulannya mendekati suara “o” sedangkan untuk huruf yang lain mendekati suara “e”.
Contoh:  تجري من تحتها الأنهار

b.Qalqalah Kubro
yaitu apabila salah satu huruf qalqalah dalam keadaan bersukun karena diwaqafkan atau bersukun di akhir kata. Cara membacanya dengan cara menekan kuat makhraj huruf qalqalah yang disukun/diwaqafkan tersebut sehingga lafadznya memantul dengan lebih berkumandang dan lebih jelas. Untuk huruf “qaf” dan “tha” pantulannya mendekati suara “o” sedangkan untuk huruf yang lain mendekati suara “e”.
contoh: قل هو الله أحد









1. Rezeki Allah Sangat Luas
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Badan yang sehat, otak yang cerdas, keimanan dan kemampuan melaksanakan ibadah dengan baik adalah bagian dari sekian banyak karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Namun demikian  ada sebagian dari  manusia yang terjebak dengan  pemikiran bahwa rezeki Allah  hanya  berupa materi.  Padahal rezeki Allah  sebenarnya sangatlah luas. Tahukah kalian bahwa  udara yang kita hirup setiap hari juga merupakan bagian rezeki  dari Allah untuk manusia? Bahkan akal fikiran dan perasaan yang Allah karuniakan kepada kita di mana potensi tersebut bisa menjadikan manusia bermartabat dibandingkan dengan makhluk yang lain itu juga termasuk rezeki Allah?  Lalu apakah pengertian rezeki itu?

a. Pengertian Rezeki
Kata rezeki berarti penghidupan, tiap-tiap yang bermanfaat, segala yang berdaya guna bagi makhluk. Rezeki  Allah swt berarti penghidupan atau tiap-tiap  yang berguna bagi kehidupan makhluk  berasal dari Allah swt.  Rezeki juga berarti anugrah, karunia atau pemberian dari sisi Allah swt kepada makhluk-Nya. Tahukah kalian  bahwa rezeki manusia dan seluruh makhluk hidup sudah dijamin oleh Allah? Perhatikan firman Allah  dalam surah ar-Rum : 40 berikut ini :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ
 سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ.
Artinya “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”.

Pada ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Dia telah menghidupkan manusia, memberi rezeki, mematikan dan menghidupkan mereka kembali. Kemudian Allah mempertanyakan kepada manusia “Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu?” Kalimat Tanya seperti itu lazim disebut dengan pertanyaan untuk menegaskan, maksudnya penegasan bahwa tidak ada makhluk yang dapat berbuat. Inilah yang membutikan bahwa tidak ada yang dapat disekutukan dengan Allah. Dia maha suci dari segala anggapan orang-orang yang menyekutukan-Nya.

b. Spirit Dari Al Qur'an Dalam Mencari Rezeki
Setelah  kalian tahu  bahwa semua makhluk yang ada di muka bumi   rezekinya dijamin oleh Allah, bukan berarti manusia tanpa berbuat apa-apa kemudian rezeki itu ada dengan sendirinya, tetapi dengan akal cerdas yang kita miliki kita harus berpikir bahwa  untuk mendapatkan rezeki itu  tentunya tidak mudah harus ada proses pengupayaan yaitu melalui  usaha atau kerja. Islam tidak menganjurkan pemeluknya untuk memerankan diri sebagai penganggur, meski dengan alasan  untuk mengkonsentrasikan diri dalam beribadah kepada Allah swt.  Atau menggantungkan belas kasihan orang lain dengan cara meminta-minta. Jadi, berusaha mencari rezeki adalah suatu  keharusan. Seseorang yang bekerja    dengan cara yang baik, halal , motivasi dan tujuannya benar, maka dia akan mendapatkan rezeki dalam bentuk materi dan   juga pahala karena apa yang diusahakannya termasuk ibadah.
Renungkan firman Allah swt: ”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” ( Q.S. Al-Jumu'ah (62):10 ). Tentang ayat ini  dalam tafsir Ar-Razi dinyatakan bahwa makna ” maka bertebaranlah kamu di muka bumi” mengacu dua hal yaitu  pertama, perintah untuk menyelesaikan tugas-tugas hidup setelah  selesai salat jumat dan kedua,  larangan untuk berdiam diri, istirahat, tidur di dalam masjid setelah selesai salat jumat.  Dalam firman Allah ini tentunya meberi inspirasi bagi kalian untuk senantiasa ”produktif, energig dan efisien ” dalam menggunakan waktu  dan dilarang keras untuk bermalas-malasan.
Allah swt berfirman: ”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. (QS.al-Mulk(67):15)
Tentang ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan: ” Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjuru-Nya, dan berkelilinglah di sudut-sudut, tepian dan wilayah-wilayah-Nya untuk menjalankan usaha dan perniagaan". Jadi salah satu pintu  rezeki Allah yang bisa dimasuki  manusia adalah lewat bidang  perdagangan. kebiasaan mencari nafkah dengan berdagang ternyata sudah dilakukan oleh orang-orang suku Quraisy dari  sejak zaman Rasulullah saw. Perjalanan dagang mereka ke luar wilayah Mekah, yaitu  pada musim dingin, mereka melakukan perjalanan ke Yaman untuk berbelanja parfum dan rempah-rempah. Selama musim panas mereka pergi ke Syam untuk berbelanja hasil pertanian. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam  firman-Nya  yang terdapat pada  Q.S. Quraisy:  2
إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (٢)
 (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

c. Rezeki yang halal dan berkah
Setiap manusia berhak untuk hidup layak, aman, damai dan bahagia.  Untuk hidup layak ini, menurut Al-Qur’an merupakan hak sekaligus kewajiban  asas yang paling utama dalam Islam. Ajaran al- Qur'an dan hadis   mendorong manusia agar mencari rezeki yang halal dan thayyib. Rasulullah saw bersabda: ”Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rezeki) .....” Rasulullah saw juga mengingatkan manusia  agar berhati-hati dalam mencari harta dan harus selektif  dengan cara memperolehnya sehingga  harta yang dimiliki benar-benar halal.

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ
 زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَ م مِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ (البخارى  وأبو
 يعلى)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pasti akan datang pada manusia suatu zaman dimana orang tidak perduli lagi dengan apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram. (Hadis shahih riwayat Al-Bukhari dan Abu Ya’la).
2.   Q.S. QURAISY  DAN  Q.S. AL-INSYIRAH 

                          Q. S. Quraisy 1-4

No Terjemah Ayat
1 Karena kebiasaan orang-orang Quraisy لإيلافِ قُرَيْشٍ (١)
2 (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (٢)
3 maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (kabah). فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (٣)
4 Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (٤)


Q.S. Al-Insyirah 1-8

No Terjemah Ayat
1 Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (١)
2 dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (٢)
3 yang memberatkan punggungmu الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (٣)
4 Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (٤)
5 Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥)
6 sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)
7 Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)
8 dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (٨)


a. Kandungan Q.S.  Quraisy
Surah  Quraisy  terdiri  dari 4 ayat  dan termasuk golongan surah Makkiyyah .     Ayat 1, menjelaskan bahwa nama Quraisy diambil dari kata ”  قُرَيْشٍ ”  yang terdapat pada ayat pertama  yang berarti Suku Quraisy. Suku Quraisy adalah suku yang mendapat kehormatan untuk memelihara Ka’bah. Pokok kandungan Q.S. Quraisy adalah:
Ayat 1, menjelaskan tentang kebiasaan suku Quraisy yang mempunyai mata pencaharian pokok berdagang,
Ayat 2, menjelaskan tentang  perjalanan dagang orang-orang Quraisy pada musim dingin pergi ke negeri Yaman dan pada musim panas ke negeri Syam dalam setiap tahunnya. Mereka bepergian dengan tujuan untuk berniaga yang keuntungannya digunakan untuk keperluan hidup  di Mekah dan untuk berkhidmat kepada Baitullah yang merupakan kebanggaan mereka.
Ayat 3, Allah mengingatkan suku Quraisy khususnya dan umat Islam umumnya agar selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah. Mereka diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhan (pemilik) Ka’bah. Terhadap rezeki yang diterima, mereka harus mensyukurinya dengan cara memanfaatkannya sesuai dengan perintah Allah.
Ayat  4  Allah swt. menunjukkan akan kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka yaitu berupa makanan dan rasa aman. Tuhan pemilik Ka’bah itu telah memberikan kepada mereka makan untuk menghilangkan lapar. Mereka juga diberi keistimewaan dengan rasa aman dan tenteram. Maka dari itu hendaklah mereka mengesakan Allah SWT. dalam beribadah,  tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun  dan tidak menyembah selain Allah . Dengan demikian di sini Allah memadukan rasa aman di dunia dan rasa aman di akhirat dengan melaksanakan perintah-Nya untuk mengesakan Allah SWT. dalam beribadah. Dan barang siapa yang mendurhakai perintah Allah itu, maka Allah akan mencabut rasa aman di akhirat  sebagaimana firman-Nya :

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ. وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ  ( الـنـحـل :   112- 113   )

Artinya : “ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan ( dengan ) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi ( penduduk ) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; Karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.  ( QS. an-Nahl :  112 – 113 )

Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa inti pokok yang terkandung pada Q.S. Quraisy adalah peringatan Allah swt. kepada orang-orang Quraisy tentang nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepada mereka. Karena itu mereka diperintahkan untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun.

b. Kandungan Q.S. al- Insyirah
Surat al- Insyirah terdiri dari 8 ayat dan tergolong surah Makkiyah. Surah al-Insyirah ini merupakan tasliyah ( penghibur ) bagi Nabi Muhammad saw. Adapun isi kandungannya sebagai berikut :
Ayat 1, Allah menyatakan kepada nabi Muhammad SAW, dengan peryataan bahwa sesungguhnya Kami telah melapangkan  dadamu dan Kami memberikan cahaya sehingga dadamu menjadi lapang dan luas.
Ayat 2-3, Allah telah meringankan beban nabi Muhammad, maksud beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita nabi Muhammad saw
dalam menyampaikan risalah.
Ayat 4, Allah memberikan penghargaan kepada nabi Muhammad atas kesabarannya dalam melaksanakan risalah dakwah.
Ayat 5-6, Allah menyatakan bahwa disetiap kesulitan akan datang kemudahan. Allah menyampaikan hal tersebut untuk memberi motivasi kepada nabi muhammad dan hamba- hamba-Nya bahwa tidak ada kesulitan yang tidak teratasi selama manusia memiliki semangat untuk keluar dari kesulitan dan selalu bertawakkal kepada Allah.
Ayat 7, Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya agar tidak cepat puas dengan hasil usahanya dan mengingatkan apabila telah menyelesaikan suatu urusan maka segeralah untuk menyelesaikan urusan yang lain.
Ayat 8, Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya agar senantiasa bersandar dan mohon pertolongan hanya kepada Allah. 





1. Rezeki adalah segala sesuatu yang berdaya guna bagi kehidupan makhluk.
2. Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk selalu bersyukur atas rezeki yang telah diberikan kepadanya
3. Mata pencaharian suku Quraisy umumnya adalah berdagang. Pada musim dingin mereka dagang ke Yaman, sedangkan pada musim panas berdagang ke Syam ( Suriah).
4. Allah swt telah melapangkan dada nabi Muhammad dalam menghadapi rintangan dari orang kafir.
5. Allah swt menjanjikan bahwa setelah kesulitan yang dihadapi Rasulullah Muhammad saw. dan umatnya akan datang kemudahan.
6. Etos kerja harus ditumbuh kembangkan yaitu jika telah menyelesaikan suatu pekerjaan segeralah untuk mengerjakan yang lain.
7. Kita harus senantiasa mengharap pertolongan dari Allah swt. karena Dialah sebaik-baik pemberi pertolongan.


 




A. Konsep Kepedulian Sosial menurut Q.S. Al- Kautsar dan Q.S. Al-
1. Kepedulian Sosial
Kata kepedulian berasal dari akar kata peduli yang artinya memerhatikan atau menghiraukan. Menaruh peduli berarti menaruh perhatian atau menghiaraukan sesuatu. Kepedulian  merupakan suatu sikap  memperhatikan atau menghiraukan  urusan orang lain ( sesam anggota masyarakat). Kepedulan sosial bukan berarti mencampuri urusan orang lain tetapi lebih pada membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan. Mengapa manusia perlu memiliki kepedulian sosial? Dikarenakan manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa menjalin hubungan kerjasama dengan orang lain. Kerjasama itu dapat terjalin harmonis manakala masing-masing pihak memiliki kepedulian sosial.  Sikap kepedulian sosial sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.  Karena kepedulian sosial  mempunyai dampak positif antara lain  terwujudnya sikap tolong menolong sehingga menumbuhkan kerukunan dan  dan kebersamaan yang erat. Banyak cara  untuk membentuk jiwa social dalam kehidupan masyarakat , antara lain :
a. Menyadari bahwa rezeki adalah berasal dari Allah dan jika Allah menghendaki dapat di ambil dalam waktu yang relative singkat.
b. Menyadari bahwa kepedulian social termasuk ibadah yang pasti akan mendapat pahala dari Allah.
c. Menjauhkan diri dari sifat rakus(Tamak), kikir dan bakhil.
Konsep kepedulian sosial terdapat pada surah al-Kautsar dan al- Maun.

2. Surah Al Kautsar dan Al-Maun Tentang Kepedulian Sosial
a. Surah al- Kautsar

              

1)   Terjemah surah
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2.  Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.
2) Penjelasan surah
Surah al-Kautsar terdiri dari 3 ayat, termasuk golongan surat-surat makiyyah. Surah ini diturunkan oleh Allah menghibur  hati nabi Muhammad. Adapun isi kandungan surah al- Kautsar sebagai berikut:
Ayat 1, menerangkan tentang Allah telah memberikan yang banyak kepada Nabi Muhammad SAW. Nikmat yang banyak tersebut disebut Al-Kautsar.
Ayat 2, menerangkan tentang dua perintah kepada Nabi Muhammad saw., khususnya dan umat Islam pada umumnya, yaitu melaksanakan sholat dan berqurban. Pelaksanaan dua perintah tersebut sebagai bukti rasa syukur atas limpahan nikmat Allah swt. Yang begitu banyak
Ayat 3, menerangkan tentang  orang yang membenci Nabi Muhammad saw. Dan risalahnya akan terputus dari rahmat-Nya. Dalam ayat ini terdapat lafal al-abtar. Menurut kebiasaan orang arab, kata ini digunakan untuk menyebut orang yang tidak memiliki anak laki-laki.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa isi kandugan surah al-Kautsar menjelaskan bahwa Allah mengnugerahkan nikmat yang berlimpah kepada nabi muhammad, sehingga Allah memerintahkan untuk bersyukur denga mendirikan salat dan berkurban penuh keikhlasan.Orang-orang yang membenci Nabi Muhammad tidak akan mendapat kebaikan dunia dan akhirat, dia benar-benar orang yang merugi.
b. Surah al- Ma’un
            
                          

1) Terjemah surah
1. tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna


2)  Penjelasan surah
Ayat1-3 menjelaskan tentang pendusta agama yaitu orang yang menghardik ( menyia-nyiakan) anak yatim dan enggan memberi makan kepada orang miskin.
Ayat 4-7 menjelaskan tentang orang-orang yang melaksanakan salat tetapi mendapat celaka. Kecelakan disebabkan karena mereka lalai atau mengabaikan waktu salatnya. Orang yang melalaikan salatnya termasuk pendusta agama.
Juga menjelaskan tentang  ria, yaitu orang-orang yang berbuat baik karena ingin memperoleh pujian dan sanjungan dari orang lain  bukan ikhlas karena Allah.  Al- Ghazali  dalam menjelaskan  ria terjadi  jika seseorang menampilkan amal dalam bentuk ibadah dengan tujuan supaya diperhatikan oleh orang lain, sehingga ia mendapat tempat di dalam hatinya. Orang yang ria termasuk pendusta agama  karena pernbuatan itu menyekutukan Allah.
Ayat 7, mnerupakan salah satu ajaran tentang larangan berperilaku bakhil atau kikir yaitu  enggan memberi bantuan kepada orang lain. Perilaku ini termasuk pendustaan terhadap agama.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa surah al- Ma’un menjelaskan tentang sifat manusia yang dipandang oleh Allah sebagai pendusta agama, yaitu:
a. Orang-orang yang menghardik anak yatim
b. Enggan memberi bantuan kepada orang lain lain yang sangat membutuhkan bantuannya.
c. Orang yang enggan member makan kepada fakir miskun.
d. Orang yang lalai dalam salat dan ria.
Pengertian menghardik anak yatim ada dua kategori yaitu menghardik secara verbal dan menghardik secara non verbal. Menghardik secara verbal yaitu menghardik dengan ucapan-ucapan yang kasar, sedangkan menghardik yang bersifat nonverbal misalnya bertutur kata lembut dengan anak yatim , tetapi tidak  memberikan makan dan pakaian yang dan pendidikan yang layak bagi mereka Para pelaku kesewenang-wenangan terhadap yatim, akan mendapatkan balasan dari Allah swt. antara lain, ditegaskan di surah an-Nisaa’ ayat 10. Allah mengganjar mereka yang memakan harta yatim secara lalim, sebenarnya menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala neraka.
•        
        

Artinya, “ Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
Kedua, menghina anak yatim sama saja dengan menempuh jalan ke neraka. Karena, dengan menyakiti hati anak yatim, apa pun doa anak yatim akan dikabulkan oleh Allah swt. “Doa baik dan buruk dari yatim akan dikabulkan oleh Allah.,” 

3. Hadis Tentang Tolong Menolong dan Mencintai Anak Yatim
A. Hadis Tentang Tolong Menolong
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)    رواه البخاري )


مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَابِ الدُّنْياَ نَفْسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَابِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ   يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا   وَالْاَخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَابِ الدُّنْياَ نَفْسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَابِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ   يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا   وَالْاَخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ.

1. Terjemahan Hadis
Hadis Pertama
 "Bahwasanya Abdullah bin Umar r.a. mengabarkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: ” Muslim yang satu adalah saudara muslim yang lain; oleh karena itu ia tidak boleh menganiaya dan mendiamkannya. Barang siapa memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Barang siapa membantu kesulitan seorang muslim, maka Allah akan membantu kesulitannya dari beberapa kesulitannya nanti pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat ” .  ( HR Bukhari )

Hadis kedua
Barang siapa melapangkan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melapangkannya dari salah satu  kesusahan di hari kiamat. Barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya. (H>R. Muslim dari Abu Hurairah).

a. Penjelasan Hadis
 Hadis  pertama,  Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita agar saling tolong-menolong. Tolong menolong atau ta’awun merupakan kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan telah membuktikan, bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain, pasti tidak akan dapat dilakukan secara sendirian meskipun dia seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu. Ini menunjukkan, bahwa tolong-menolong dan saling membantu merupakan sebuah keharusan dalam hidup manusia. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢)


Artinya” ….Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.

Ta'awun (saling tolong menolong), adalah merupakan salah satu cara menjaga ukhuwah islamiah (persaudaraan dalam islam). Tidak ada arti dan nilainya jika kita  menganggap saudara tetapi  kita tidak membantu saudara kita ketika memerlukan bantuan, dan menolongnya ketika dia ditimpa  cobaan, serta belas kasihan ketika ia dalam keadaan lemah.
Rasulullah SAW. telah mengajarkan  tujuan saling tolong menolong dalam bermasyarakat adalah bagaikan bangunan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِه
(صحيح البخاري - ج 8 / ص  315(

Artinya:"Mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling  memperkuat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya. (Rasulullah SAW. sambil memasukkan jari-jari tangan ke sela jari- jari lainnya) (HR. Bukhari)

Coba kalian renungkan , Satu batu merah tentu saja lemah, meskipun terlihat kuat. Dan seribu batu bata yang berserakan (tidak teratur), tidak mempunyai nilai karena tidak bisa membentuk bangunan. Tetapi  manakala batu bata itu disusun dengan teratur dalam susunan yang rapi dan kokoh sesuai dengan aturan yang berlaku maka akan membentuk suatu bangunan.  batu-bata tersebut  tidak lagi disebut batu bata tapi berubah menjadi dinding yang kokoh dan  dinding-dinding itu akan berubah wajah menjadi  rumah yang kuat , yang tidak mudah dirobohkan oleh tangan-tangan yang jahil yang  menghendaki kerusakan. Itulah ibarat yang digambarkan Rasulullah berkaitan dengan pentingnya sikap gemar tolong menolong. Allah swt memberikan apresiasi kepada orang yang mau membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantunya dalam memenuhi kebutuhannya. Orang yang mau melepaskan kesusahan orang lain maka ia akan dilepaskan dari kesusahannya di hari kiamat. Orang yang suka menutupi aib orang lain, ia akan ditutupi oleh Allah dari aibnya di hari kiamat nanti.

Hadis kedua, menjelaskan tentang  sikap hidup yang harus ditumbuh kembangkan  dalam kehidupan bermasyarkat  sehari-hari. Yaitu, kesediaan melapangkan kesusahan, meringankan beban penderitaan, menjaga atau menutupi aib saudaranya agar tidak diketahui oleh orang banyak, dan kesediaan menolong sesama, jika hal tersebut ditumbuh kembangkan dalam kehidupan sehari dengan ikhlas insya Allah akan mendapat balasan dari Allah, yaitu akan dilapangkan, diringankan, ditutupi aibnya dan  mendapat pertolongan  Allah dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat.

1. Hadis Tentang Mencintai Anak Yatim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا وَ عَنْ أَبِي
كَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بَيْنَهُمَا
 (رواه مسلم )

خَيْرُ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ  بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ وَشَرُّ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ
 يَتِيْمٌ يُسَاءُ اِلَيْهِ . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهُ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ.
         
a. Terjemah hadis
Hadis Pertama
Artinya:” Aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim di syurga seperti ini. Beliau menunjukkan telunjuk jari tengah serta beliau merenggangkan antara keduanya”. (H.R. Muslim)
Hadis kedua
Sebaik-baik rumah orang islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Seburuk-buruk rumah orang islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan jahat.  (H.R. Ibnu Majjah dari Abu Hurairah).
b. Penjelasan Hadis
Hadis di atas  memberikan motivasi kepada kita untuk mau peduli terhadap anak yatim. Orang yang mau peduli terhadap anak yatim dengan cara memeliharanya, akan memperoleh kedudukan yang tinggi yaitu berada di surga bersama Nabi Muhammad SAW. Layaknyajari  telunjuk dan jari tengah.
Anak yatim ialah anak-anak yang belum balig yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya atau salah satunya. Orang yang pertama yang bertanggung jawab adalah ahli warisnya untuk memelihara, mendidik, dan membesarkannya sehingga ia dapat  menjalani hidup secara mandiri. Yatim piatu (istilah di Indonesia) yang diartikan sebagai anak yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya.
Anak-anak yatim membutuhkan bimbingan dan kasih sayang orang tua untuk perkembangan kepribadiannya. Namun, mereka tidak mendapatkan hal tersebut, karena ayah atau ibunya sudah meninggal. Maka, diperlukan orang lain yang dapat menggantikan peran orang tua untuk menuntun mereka ke jalan yang benar.
Tanpa perhatian dan kasih sayang, anak-anak yang kehilangan orang tua itu, tidak dapat tumbuh secara seimbang antara jasmani dan rohaninya, sehingga memungkinkan anak mengalami perkembangan yang timpang. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan umat Islam agar mau menggantikan peran ayah dan ibunya dengan jaminan surga yang berdekatan dengan surga nabi.
Selama ini, pengertian menyantuni anak yatim cenderung pada kebutuhan fisiknya saja. Sedang yang bersifat psikologis belum banyak dilakukan. Padahal anak-anak yatim yang tinggal di panti maupun di rumahnya sendiri, mereka merindukan figur ayah/ibu yang menjadi tempat curhat dan bermanja. Oleh karena itu sebaiknya pemberian bantuan untuk kebutuhan fisik, disertai pula dengan komunikasi pribadi yang intens untuk memahami kebutuhan psikologis maupun pengembangan bakat minat anak yang bermanfaat bagi masa depannya.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. pada Hadis tersebut bahwa orang yang menyantuni anak yatim dengan baik maka ia akan bisa bersama dengan rasulullah SAW. masuk syurga.
  Hadis kedua menjelaskan rumah yang paling mulia dalam pandangan nabi Muhammad adalah rumah yang ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Sebaliknya sejelek-jelek rumah adalah apabila di dalamnya ada anak yatim dan disia-siakan, jika demikian maka aura keberkahan hidup tidak akan pernah terpancar di rumah tersebut beserta penghuninya.







1. Surat Al-kausar dan Al-Ma’un adalah surat yang mengungkap  informasi  Allah, bahwa kaum muslimin harus mempunyai dan selalu menumbuh kembangkan sikap  kepedulian  social kepada orang lain
2. Kepedulian sosial dalam surat al-kautsar diwujudkan dengan menyembelih kurban  dan diniatkan hanya semata – mata karena Allah.                     
3. Kepedulian sosial dalam surat Al- Ma’un di wujudkan dalam bentuk
- Tidak menyia-nyiakan anak yatim ,menyantuni fakir miskin
- Menganjurkan untuk memberi makan orang miskin dan memberi sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
4. Dalam surah al- Maun Allah menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang mendustakan agama, yaitu :
a. Menyia-nyiakan anak yatim
b. Melalaikan salat
c. Ria
d. Enggan memberi pertolongan.
5. Menyintai anak yatim merupakan perintah agama yang besar pahalanya
6. Keutamaan orang menyintai anak yatim adalah akan berada di surga bersama rasululullah yang dekatnya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.
7. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aubnya di dunia dan di akhirat.







Membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih adalah suatu keharusan  bagi orang Islam. Tahukah kalian, bahwa panjang atau pendeknya dalam bacaan dalam membaca Al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap arti/ makna ayat-ayat Al-Quran? Oleh karena itu dalam membaca Al-Quran kalian harus hati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Membaca Al-Qur’an dengan benar tentunya akan menambah kesempurnaan kalian dalam beribadah kepada Allah.  Untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan benar kalian  harus faham ilmu tajwid. Untuk memperbaiki bacan al-Qur’an kalian berikut ini kalian akan mempelajari materi hukum bacaan mad, yaitu mad iwadl, mad layyin dan arid lis-sukun.
a. Mad Iwadl
Menurut bahasa mad artinya panjang dan Iwadl artinya pengganti. Sedangkan menurut istilah mad iwadl adalah mad yang terjadi apabila ada fathatain yang berada di akhir ayat atau ada tanda waqaf. Bacaan mad di sini menggantikan bunyi fathatain. Cara membacanya dipanjangkan dua harakat atau satu alif. Contoh hukum bacaan  mad iwadl terdapat pada surah al- Kahfi ayat 110. Perhatikan lafal yang berwarna merah.

                          



Juga terdapat pada surah an-Nashr ayat 3. Perhatikan lafal yang berwarna merah berikut :
         
   
Khusus fathatain yang berada pada huruf  ta marbutah  tidak di baca mad karena huruf tersebut jika di waqafkan berubah bunyi menjadi huruf ha.
Contoh terdapat di surah Ali Imran: 8 perhatikan  lafal yang berwarna merah berikut ini.
             •  •  




b. Mad Layyin
Menurut bahasa mad artinya panjang dan layyin artinya lunak. Sedangkan menurut istilah mad layyin adalah  mad yang terjadi apabila ada  wau sukun atau  ya sukun dan didahului oleh huruf yang  berharakat fathah dan setelahnya berupa huruf hidup yang dibaca waqaf. Cara membacanya boleh dipanjangkan sebanyak  dua harakat, empat harakat atau enam harakat. Contoh mad layin terdapat pada surah Quraisy ayat 1-2, surah Ali Imran ayat 26.  Perhatikan lafal yang  berwarna merah.

 •         

                      •      
 
c. Mad ’arid lis-sukun
Menurut bahasa Mad artinya panjang, arid artinya baru/ tiba-tiba ada dan sukun artinya mati. Menurut istilah mad yang terjadi apabila ada huruf mad (wau, alif atau ya) yang berada di akhir ayat atau terdapat tanda waqaf. Cara membaca mad arid lis-sukun ada tiga macam, yaitu boleh dua harakat ( Qashr) empat harakat ( Tawassuth), atau enam harakat (Thul). Yang paling utama adalah membaca dengan panjang bacaan enam harakat. Contoh  bacaan mad arid lis-sukun terdapat pada surah al-Ma’un ayat 1, surah Yasin ayat 9, az-Zumar ayat 20. Perhatikan lafal yang berwarna merah.
    

            
 
  •       •    
         






1. Menurut istilah mad iwadl adalah mad yang terjadi apabila ada fathatain yang berada di akhir ayat atau ada tanda waqaf. Bacaan mad di sini menggantikan bunyi fathatain.
2. Panjang bacaan mad iwadl adalah  dua harakat atau satu alif.
3. Mad layin adalah  mad yang terjadi apabila ada  wau sukun atau  ya sukun dan huruf sebelumnya  berharakat fathah dan setelahnya berupa huruf hidup kemudian dibaca waqaf.
4. Panjang bacaan mad layin adalah   dua harakat, empat harakat atau enam harakat.
5. Mad adrid lis- sukun adalah mad yang terjadi apabila ada huruf mad (wau, alif atau ya) yang berada di akhir ayat atau terdapat tanda waqaf.
6. Panjang bacaan mad arid lis-sukun adalah  boleh dua, empat atau enam harakat.






A. Tamak terhadap Harta
Islam mewajibkan umatnya untuk bekerja mencukupi kebutuhan hidup dengan cara yang benar.  Dengan bekerja maka manusia akan memperoleh hak milik berupa harta benda. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, harta tersebut  juga harus dimanfaatkan dengan tujuan beribadah kepada Allah SWT.
Tahukah kalian, bahwa kepemilikan harta yang melimpah terkadang bisa memunculkan  perilaku Akhlakul mazmumah yaitu tamak terhadap harta? Sifat tamak  muncul karena manusia sangat mencintai harta kekayaan. Karena kecintaannya terhadap harta  yang mendalam,  sebagian manusia berkeinginan  menimbun harta  untuk kepentingan pribadi,  dengan kekayaan yang bertambah bersamaan itu muncul sikap batin yang tidak baik, yaitu keserakahan dan keinginan yang tidak terkendali  terhadap harta kekayaan,  selalu berusaha mengejar   dan mencari kekayaan dengan segala macam cara. Dia tidak pernah memiliki kepuasan terhadap apa yang ada padanya dan tidak mampu membendung keinginan-keinginan  terhadap apa yang belum berhasil dicapai.  Dia tidak pernah merasa bersyukur dengan apa yang dia miliki, tetapi justru keserakahan terhadap apa yang belum dimiliki menjadi memuncak. Sikap seperti inilah yang disinyalir oleh Allah dalam al-Qur’an surat at-Takatsur, bahwa pada dasarnya manusia mempunyai kecenderungan untuk tamak dan serakah terhadap harta. ”Obsesi untuk mengumpulkan kekayaan yang sebanyak-banyaknya tidak pernah berakhir dalam diri manusia sampai dia masuk ke liang kubur”  Naudzubillah min dzalik!

1. Pengertian tamak
Era  sekarang manusia lebih memilih  hidup mewah dan berlaku  konsumtif. Salah satu efek negatif dari gaya hidup konsumtif  adalah menumbuhkan sifat tamak terhadap harta. Lalu apakah yang dimaksud dengan tamak terhadap harta?
Tamak terhadap harta adalah suatu keinginan yang amat besar untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Keinginan untuk memperoleh harta itu didorong oleh kecintaan terhadap harta melebihi yang lain.
Sebenarnya  Islam tidak  melarang jika seseorang itu  mencintai harta, hanya saja Islam mengingatkan agar  kecintaannya pada harta itu bukan dijadikan sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup manusia tidak terletak pada kecukupan harta, tetapi kepuasan ruhani yang mengantarkan manusia menikmati kehidupan di masa datang (kehidupan Akhirat) secara lebih hakiki.
Al-Qur’an mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang membuat manusia senang terhadap harta, karena harta merupakan hiasan kehidupan dunia. Coba renungkan  firman Allah yang terdapat  pada surah al-Kahfi ayat  46, berikut :

               

Artinya:” Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Sepanjang hayat masih dikandung badan keinginan manusia untuk menambah dan mengumpulkan harta tidak akan pupus. Semakin bertambah kekayaan yang diperoleh dan dikuasai , semakin tinggi semangatnya untuk menambah kekayaan. Rasulullah dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bersabda: ” Seandainya manusia ada yang memiliki dua lembah yang penuh dengan emas maka dia akan tetap mengharapkan mempunyai lembah yang ketiga”.

2. Akibat buruk  dari  sifat Tamak terhadap Harta
Prilaku-perilaku negatif  yang ditimbulkan dari  sifat tamak antara lain :
a. Bakhil  yaitu sikap terlalu sayang terhadap harta sehingga enggan memberikan kepada  orang lain.
b. Egois yaitu suatu sikap yang mementingkan diri sendiri
c. Individualis yaitu suatu sikap yang tidak peduli dengan lingkungannya.
d. Ambisius  yaitu keinginan berlebih-lebihan untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya.
e. Menjadikan harta sebagai ”berhala” ( suatu yang dipuja-puja, diimpi-impikan) sehingga melalaikan tujuan kehidupan hakiki (akhirat).

Sifat tamak  sangat dibenci oleh Allah, sebagaimana yang terkandung dalam Surat al-Humazah dan at-Takatsur.
Pembelajaran kali ini akan membahas Surat al-Humazah dan at-Takatsur yang didalamnya terkandung peringatan Allah SWT agar kita tidak tamak terhadap harta benda. Surah ini menggambarkan tentang ancaman Allah bagi orang-orang yang suka mencela, dan suka menimbun harta, bermegah-megahan dengan harta serta enggan menafkahkan harta di jalan Allah.

B. Kandungan Surah al-Humazah dan at-Takatsur
Surah al- Humazah dan at-Takatsur merupakan dua surah yang membahas tentang sifat orang yang tamak terhadap harta. Mari kita pelajari surah tersebut dengan sungguh-sungguh!
1. Surah al- Humazah
Pembahasan surah al-Humazah meliputi lafal surah, terjemah dan penjelasannya.
a. Lafal dan terjemahan surah al-Humazah

                •        •                          •         

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,  dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.  Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,  yang (membakar) sampai ke hati.  Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,  (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”
b. Asbabun Nuzul
Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Utsman dan Ibnu Umar berkata: Masih segar terngiang di telinga kami bahwa ayat ini ( surah al-Humazah 1-2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya dan  selalu mengejek dan menghina rasul dengan kekayaannya.” Demikianlah yang diriwayatkan  Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Utsman dan Ibnu ‘Umar.

c. Penjelasan Ayat
Surah al-Humazah termasuk golongan Surah Makiyyah, Surah al-Humazah terdiri dari sembilan ayat. al-Humazah artinya pengumpat, yaitu salah satu sifat tercela dan dilarang oleh agama.  Pokok kandungan surah al- Humazah sebagai berikut:
Ayat 1, menjelaskan tentang orang yang suka mencela dan mengumpat akan celaka.
Ayat 2, menjelaskan tentang perilaku  orang kafir yang gemar mengumpulkan harta dan sibuk menghitung kekayaannya, mereka lebih berkonsentrasi  pada kehidupan dunia yang fana.
Ayat 3, menjelaskan tentang perilaku orang kafir yang menganggap bahwa harta yang dimiliki bisa membawa pada kesenangan selama-lamanya.
Ayat 4, Allah menjelaskan bahwa semua anggapan orang kafir itu salah, kekayaan yang mereka miliki tidak bermanfaat. Mereka akan mendapat balasan dari perbuatannya, yaitu dilempar ke neraka Hutamah.
Ayat 5-7, menjelaskan tentang tempat bagi pencela dan pengumpat, yaitu neraka Hutamah merupakan  api neraka yang akan membakar  hingga masuk ke dalam hati mereka.
Ayat 8-9, menjelaskan keadaan mereka  ketika berada di neraka hutamah, yaitu tidak dapat keluar karena sudah ditutup rapat dan mereka diikat di tiang-tiang panjang.
Setelah kalian memahami kandungan surah al-Humazah pasti kalian akan berfikir lebih jauh untuk mampu menghindari  perilaku-perilaku buruk yang terungkap dalam surah tersebut. Yakinlah bahwa kalian mampu dan mohonlah perlindungan  dari Allah, karena Allah adalah sebaik-baik tempat berlindung.
 Ancaman bagi orang-orang yang tidak mampu menghindari sifat-sifat buruk yang terungkap dalam surah al- Humazah adalah neraka Hutamah, sifat api Hutamah berbeda dengan api yang berada di dunia. Api Hutamah dapat menyusup masuk ke rongga badan hingga membakar hati. Hati merupakan anggota badan yang sangat sensitif, jika hati terbakar tentunya rasa sakitnya tiada terkira. Neraka tersebut terkunci rapat, sehingga setiap kali mereka hendak keluar karena merasakan kesengsaraan, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya lagi, begitulah penderitaan yang mereka alami.  Yakinlah bahwa kalian mampu dan mohonlah perlindungan  dari Allah, karena Allah adalah sebaik-baik tempat berlindung.

2. Surah at- Takatsur
Pembahasan surah at-Takatsur meliputi lafal surah, terjemah dan penjelasannya.
a. Lafal dan terjemah surah at-Takatsur
            
                    •        •  

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”
b. Asbabun Nuzul
Surah at-Takatsur ayat 1-2 turun berkenaan dengan dua kabilah  Ansar: Bani Haritsah dan Banil Harits yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya. Mereka saling bertanya:” Apakah kalian mempunyai pahlawan segagah dan secekatan si anu?” Mereka saling menyombongkan diri dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka saling mengajak pergi ke kuburan untuk menyombongkan kepahlawanan golongannya yang sudah gugur dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga ibadahnya kepada Allah terlalaikan.  (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah)

c. Penjelasan Ayat
Surah at-Takatsur terdiri dari delapan ayat, termasuk golongan Surat Makiyyah. at-Takatsur  berarti bermegah-megahan.
Pokok kandungan surah at-Takatsur adalah tentang perilaku manusia yang suka bermegah-megahan dalam soal kehidupan duniawi sehingga menyebabkan melalaikan dari tujuan hidupnya, yaitu taat kepada Allah. Ia baru akan menyadari kesalahannya jika maut sudah menjemputnya. Allah sangat mencela perilaku yang bermegah-megahan dan membangga-banggakan status sosial. Allah menjelaskan bahwa kelak, di akhirat nanti Allah akan menyediakan tempat bagi mereka yaitu neraka jahim dan mereka benar-benar kekal di dalamnya. Di akhir surah Allah menegaskan bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kenikmatan yang dimegah-megahkan ketika di dunia itu.
Setelah kalian memahami kandungan surah at-Takatsur pasti timbul keinginan pada diri kalian untuk menghindari perbuatan-perbuatan tercela tersebut, pastikan bahwa kalian mampu dengan berharap pertolongan dari Allah.

Kandungan surah al- Humazah dan at- Takatsur mempunyai kaitan yang erat, yaitu :
1. Surah al-Humazah dan at-Takatsur  sama-sama mengungkap tentang perilaku orang yang membanggakan kemewahan dunia dan bermegah-megahan sehingga melalaikan kehidupan akhirat.
2. Orang yang berperilaku bermegah-megahan menganggap bahwa ia akan memperoleh  kenikmatan yang abadi, padahal kehidupan dunia adalah bersifat sementara, dan kelak mereka pasti akan dimintai pertanggung jawaban  tentang harta yang dimiliki serta yang mereka bangga-banggakan di dunia.
3. Baik surah al-Humazah maupun surah at-Takatsur sama-sama mengiformasikan tentang ancaman siksa yaitu berupa neraka. Bagi orang yang suka mencela dan  mengumpat  akan berada di neraka Hutamah, sedang tempat bagi orang-orang yang suka bermegah-megahan dan membanggakan harta sehingga melalaikan tujuan kehdupan hakiki kelak akan berada di neraka Jahim.
Setelah kalian mempelajari kandungan yang terdapat pada kedua surah di atas, maka kalian harus mampu mengambil hikmah akibat dari perbuatan tercela yang diungkapkan dalam kedua surah tersebut. Dalam penerapannya kalian harus mampu menghindari prilaku tercela tersebut, antara lain dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Tidak membangga-banggakan harta yang dimiliki.
2. Memilih pola hidup sederhana tapi bermartabat.
3. Tidak menjadikan   harta kekayaaan sebagai tujuan hidup.
4. Harta kekayaan yang dimiliki tidak menjadikan  lalai dalam mengingat Allah.
5. Bersikap selektif dalam mencari harta dengan  tidak menghalalkan segala cara.
6. Mencari harta yang halal dan thayyib adalah bersifat wajib.
7. Menganggap bahwa harta kekayaan yang dimiliki adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah.







1. Tamak terhadap harta termasuk akhlak mazmumah. Tamak terhadap harta berarti suatu keinginan yang amat besar untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya.
2. Antara kandungan Q.S. al-Humazah dan at-Takatsur memiliki kaitan yang sangat erat. Diantara kaitan dari kedua surat tersebut adalah :
a. Keduanya menerangkan tentang orang yang bangga dan bermegah-megahan dengan kehidupan dunia bisa melupakan kehidupan akhirat.
b. Orang yang berperilaku bermegah-megahan menganggap bahwa ia akan memperoleh  kenikmatan yang abadi, padahal kehidupan dunia adalah bersifat sementara, dan kelak mereka pasti akan dimintai pertanggung jawaban  tentang harta yang dimiliki serta yang mereka bangga-banggakan di dunia.
c. Keduanya mengandung ancaman Allah terhadap orang yang bangga dan bermegah-megahan terhadap kehidupan dunia hingga melalikan kehidupan akhirat. Ancaman itu berupa neraka Hawiyah dan neraka Jahim.
3. Kehidupan dunia  merupakan lahan untuk kita semai bibit-bibit kebajikan yang akan kita panen untuk kehidupan akhirat.





Membaca al-Qur’an harus benar dan sesuai dengan kaidah ilmu Tajwid. Tahukah kalian bahwa  salah dalam membaca akan merusak arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Membaca al-Qur’an dengan benar juga akan menambah kekhusu’an dan menambah pahala ibadah. Selain itu nantinya akan menjadikan kita mendapat syafa’at di akhirat.
Agar kalian mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar  kalian harus mempelajari Ilmu Tajwid dengan teliti. Nah pada kesempatan ini kalian akan mempelajari   Ilmu Tajwid yaitu hukum bacaan Lam dan Ra.
A. Hukum Bacaan Lam  (  ل  )
Di dalam Ilmu Tajwid hukum bacaan Lam  ada dua macam, yaitu :
1. Lam tafkhim (   تفحيم   ) tebal /  Mufakhkhamah
Apabila ada huruf Lam (ل     ) dalam  lafzul  jalalah (  الله  ) yang didahului oleh huruf yang berharakat fathah  ( ـَـ ) atau damah ( ـُـ ). Maka harus dibaca tafkhim atau tebal. Lam yang terdapat dalam lazull  Jalalah dinamakan lam jalalah. Cara mengucapkannya ialah dengan menjorokkan kedua bibir ke depan.
Contoh :
- Lafzul Jalalah (  الله  )  yang didahului oleh huruf yang berharakat fathah
معَ اللهُ  -  قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ  -  شَهِدَ اللهُ  -  لاَإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ
-  Lafzul Jalalah (  الله  )  yang didahului oleh huruf yang  berharakat damah
وَرَحْمَة ُاللهِ  -  يُؤْتِيَهمُ الله خَيْرًا  -  يُحْبِبْكُمُ اللهُ  -  عَبْدُ اللهِ
2. Lam Tarqiq (ترقيق      ) Tipis / Muraqqaqah
 Huruf Lam dibaca Tarqiq ada dalam dua keadaan, yaitu :
a. Lam yang terdapat pada Lafzul jalalah(  الله  )  dan didahului oleh huruf yang berharakat kasrah. (   ـِـ    ). Posisi mulut tidak menjorok kedepan.
 Contoh :
بِسْمِ اللهِ  -  فِىْ رَسُوْلِ اللهِ  -  فِىْ دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا 
b. Semua Lam yang terdapat dalam lafal selain lafzul jalalah
  Contoh :
  وَعَلَّمَ  -  لِكُلِّ  -  لُمَزَةٍ
B. Hukum Bacaan Ra (   ر    )
Hukum bacaan  ra (  ر  ) dibagi menjadi tiga , yaitu :
1. Ra Tafhim (  تفحيم  )  artinya  ra yang dibaca tebal .
Ra  dibaca tebal. Apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Jika huruf  ra berharakat fathah atau fathatain  (  رَ  /  رً  )
Contoh :
- Ra difathahرَبُّكُمْ  -  رَبِّ الْفَلَقِ -  غُفِرَلَهُ  -  اَلَمْ تَرَ                      ( ر)
- Ra difathatainنَارًا -   خَيْرًا -  طَيْرًا -  شرًا                          ( رً ) 
b. Jika ra berharakat dammah atau dammatain  (  رُ  /  رٌ  )
Contoh :
- Ra dammahرُزِقْنَا  -  كَفَرُوْا  -  أَكْبَرُ  -  نَصْرُاللهِ   (   رُ ) 
- Ra dhammatainغفورٌ  -  أجرٌ  -  مَبرُورٌ  -  نورٌ   (   رٌ  ) 
c. Jika ra  berharakat sukun jatuh sesudah huruf yang difathah atau didammah
(   + رْ ـُـ /  رْ +  ـَـ )
Contoh :
- Ra sukun jatuh sesudah huruf difathah (   رْ +  ـَـ  )
وَأَرْسَلَ -  تَرْمِيْهِمْ  -  فَأَ ثَرْنَ بِهِ  -  وَانْحَرْ                                 
- Ra sukun jatuh sesudah huruf didammah (   ــُ  + رْ  )
تُرْحَمُوْنَ  -  مُرْسَلِيْنَ  -  قُرْآنٌ  -  مُرْتَفَقًا                                                 
d. Jika ra  berharakat sukun didahului oleh huruf yang  berharakat kasrah tetapi kasrahnya tidak asli dari kalimat itu.  ( رْ     ِ          / kasrah tidak asli )
Contoh :                                                    اِرْجِعِىْ  -  اِرْكَبْ  -  اِرْحَمْنَا
e. Jika ra berharakat sukun sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, namun sesudah ra sukun itu ada huruf ISTI’LA (  إسـتـعـلاء  ) yang tidak dikasrah (huruf isti’la tidak dikasrah  +  رْ +  ِ      / kasrah asli ). Sedangkan huruf isti’la itu ialah ص -    ض  -  ط  -  ظ  -  خ  -  غ  -  ق 
Contoh : قِرْطَاسٌ  -   مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ   -   مِرْصَادٌ                           
           
2. Tarqiq ( ترقيق ) tipis / Muraqqaqah
Ra tarqiq atau muraqqaqah ialah ra yang dibaca tipis. Di dalam ilmu tajwid ra ( ر )  dibaca tipis jika memenuhi persyatan-persyaratan., yaitu :
a. Jika ra  berharakat kasrah atau kasratain  ( ِر  /  ٍر  )
Contoh :
- Ra dikasrah   ( ِر   )ِرِمَاحُكُم ْ  -  كَرِيْمٌ  -  مِنَ الرِّّجَالِ  -      Ra dikasratain  (   ٍر  )بِضُرِّ  -  لَفِىْ حُسْرٍ                         
b. Jika ra berharakat sukun  dan huruf sebelumnya  berharakat kasrah  asli tetapi sesudah ra sukun  bukan huruf isti’la. (  bukan huruf isti’la +  رْ +   ـِـ       ).
Contoh : فِرْعَوْنَ  -  فَبَشِّرْهُ  -  وَأَنْذَرْبِهِ  -  مِْرفَقًا                                   
c. Jika ra diwaqafkan dan huruf sebelumnya ya sukun  ( ra waqaf  +    يْ   )
Contoh :شَيْئٍ قَدِ يْرٌ-  وَهُوَالسَّمِيْعُ الْخَبِيْر    سَمِيْع ٌبَصِيْرٌ-  لَكُم ُالْخَيْرُ       
d. Jika ra diwaqafkan dan huruf sebelumnya dikasrah ( ra waqaf +   ـِـ      )
Contoh :وَلاَ ناَصِرَ     -  هُوَالْكَافِرُ -  بِمُصَيْطِرٍ 
3. Jawazul Wajhain ( جواز الوجهين ) artinya boleh  dibaca tebal dan  boleh  dibaca tipis
Huruf ra boleh dibaca tafkhim atau tarqiq jika ra itu disukun dan huruf sebelumnya dikasrah sedangkan setelah ra sukun itu ada huruf isti’la yang dikasrah. (huruf isti’la yang dikasrah  +  رْ +  ِ      )
Contoh :مِنْ عِرْضِهِ  -  بِحِرْصٍ                                   
C. Menerapkan Hukum Bacaan Lam dan Ra Dalam Al- Qur’an Surah al- Humazah dan at- Takatsur.

Untuk lebih memperdalam pengetahuan kalian tentang hukum bacaan lam dan ra maka bacalah al-Qur’an surat al-Humazah dan surat at-Takaatsur di bawah ini dengan memfokuskan pada kalimat atau jumlah yang di dalamnya mengandung hukum bacaan lam dan ra. Ucapkanlah huruf lam dan ra yang ada di dalamnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah kalian pelajari. Dengan berlatih secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh Insya Allah kaliah akan lebih menguasai materi yang telah kalian pelajari.
1. al-Humazah
               •        •                        •          
2. at-Takatsur
            
                  •    




1. Hukum bacaan lam ada dua yaitu lam tafkhim dan lam tarqiq.
2. Hukum bacaan ra ada tiga, yaitu ra tarqiq, ra tafkhim dan jawazul wajhain.
3. Ra dibaca tafkhim (tebal) karena beberapa syarat, yaitu:
a. Jika ra difathah atau difathatain
b. Jika ra didammah atau dhammatain
c. Jika ra disukun jatuh sesudah huruf yang difathah atau di dhamah.
d. Jika ra disukun dan huruf sebelumnya dikasrah tetapi kasrahnya tidak asli dari kalimat itu.
e. Jika ra berharakat sukun sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, namun sesudah ra sukun itu ada huruf ISTI’LA (  إسـتـعـلاء  ) yang tidak dikasrah (huruf isti’la tidak dikasrah) 
4.  Jawzul wajhain adalah ra yang dapat dibaca tipis atau dibaca tebal
5. Huruf isti’la adalah huruf makhrajnya terletak pada pangkal lidah sebelah atas.




Q.S. Al Qari’ah
    
             ••         •          •               




Terjemahan lafadz
 Hari kiamat 
Tahukah kamu  
Pada hari itu 
seperti anai-anai 
gunung-gunung 
seperti bulu 
yang dihambur-hamburkan 
berat timbangan (kebaikan)nya  
ringan 


1. Hari kiamat,2.  Apakah hari kiamat itu?3.  Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?4.  Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,5.  Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.6.  Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,7.  Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8.  Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,9.  Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.10.  Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?11.  (yaitu) api yang sangat panas.





  القارعةadalah “Hari kiamat”. Berasal dari kata قرع   yang berarti mengetuk hati atau mengejutkan hati. Demikianlah sehingga Al-Qaari’ah bermakna hari kiamat. Yaitu hari yang mengejutkan hati dan sanubari setiap insan. Ketukan yang sangat dasyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

            
  Ayat 1-3 ini berisi pemberitahuan akan datangnya hari kiamat, dan pertanyaan apakah hari kiamat itu.  Pertanyaan bukan berarti ketidaktahuan Allah melainkan untuk menarik perhatian siapa saja yang mendengarkan.

  ••        
Ayat 4-5 menjelaskan peristiwa yang terjadi pada hari kiamat keadaan manusia sangat panik, ketakutan dan kebingung. Mereka berlarian tak tentu arah sehingga mereka digambarkan seperti anai-anai yang bertebaran. Diantara para mufassir ada yang menjelaskan makna anai-anai adalah laron-laron yaitu binatang yang terbang tak tentu arah, ia hanya terbang apakah ia akan selamat tau celaka. Ada yang memaknai anai-anai dengan binatang atau serangga kecil yang  sering bertebarang mengelilingi lampu.
Sedangkan gunung-gunung digambarkan seperti bulu yang berhamburan. Gunung adalah sesuatu yang bermateri berat dan bulu adalah sesuatu yang sangat ringan. Bisa dibayangkan kedahsyatan kiamat pada saat itu sehingga gunung diibaratkan seperti bulu yang dihambur-hamburkan sehingga menjadikan manusia menjadi kebingungan.
Kita biasa memikirkan, ada satu gunung berapi mengalami erupsi, sudah menjadikan manusia kebingungan, mencari perlindungan dan tempat yuang aman, mereka mengungsi dan meninggalkan harta bendanya. Apa lagi ketika gunung-gunung berapai semua berhamburan, mengeluarkan llahar panas tentu akan menjadikan situasi yang tidak menentu….

•          •       
Ayat 6-9 menjelaskan adanya dua golongan manusia, yaitu golongan orang-orang yang mempunyai timbangan kebaikannya lebih berat dan orang-orang yang mempunyai timbangan kebaikannya ringan. Setelah hari kiamat ada yang disebut dengan yaumul ba’as  yang artinya hari dibangkitkannya manusia dari kubur. (ba’ast = bangkit) sedangkan yaumul mahsyar yaitu dikumpulkannya manusia di padang mahsyar setelah itu manusia menerima catatan amalnya selama di dunia. Dengan catatan amal itu manusia dihisab (dihitung) dan dimizan (ditimbang) semua amalnya. Hal tersebut dinamakan yaumul hisab. Setelah itu manusia mendapatkan reward dan punishment atas seluruh perbuatannya di dunia pada saat yaumul jaza’ (jaza’=pahala) orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang banyak akan mendapatkan kehormatan dengan dimasukkannya ke dalam kehidupan yang memuaskan (surga). Dan kebalikannya orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang sedikit akan dimasukkan Allah ke dalam Neraka Hawiyah.

       
Ayat tersebut menjelaskan tentang neraka Hawiyah. Hawiyah artinya yang turun. Maka orang yang memiliki amal kebaikan yang sedikit akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Hawiyah. Apakah dan bagaimanakah neraka hawiyah itu? Adalah api yang panas. Api yang panas, (bergejolak).




Q.S. Al Zalzalah
    
                  •       ••                  




Terjemahan lafadz
bumi     
dengan goncangan (yang dahsyat) 
Telah mengeluarkan 
beban-beban beratnya 
"Mengapa bumi (menjadi begini)?"  
 Pada hari itu 
menceritakan beritanya 
ke luar dari kuburnya 
dalam keadaan bermacam-macam 
seberat 
dzarrahpun 
melihat (balasan)nya 

Terjemah lengkap

1.  Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2.  Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, 3.  Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",4.  Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5.  Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. 6.  Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,  Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. 8.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula





Surat ini juga dinamai dengan Al Zilzal yang berarti goncangan yang dahsyat.
        

Ayat 1-2 menjelaskan gambaran hari kiamat. yaitu ketika bumi digoncangkan dengan goncangannya yang belum pernah terjadi sama sekali sebelumnya.  Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Yang dimaksud semua itu adalah seluruh isi bumi baik berupa lahar yang pijar, barang tambang, timbunan harta maupun bangkai termasuk pula orang-orang yang telah terkubur di dalamnya.
    
Pada ayat ini diceritakan bahwa setiap orang yang menyaksikan akan mendapatkannya sangat jauh berbeda dengan peristiwa-peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya dan secara rasional mereka tidak akan dapat mengetahui apa penyebabnya sehingga mereka bingung dan tercengang lalu berkata “apa gerangan yang terjadi pada bumi ini?”

    •    
Pada waktu terjadinya guncangan itu bumi mengungkapkan segala yang telah terjadi padanya, pemberitaan oleh bumi itu adalah rekonstruksi yakni semua perubahan dan kerusakan yang terjadi akan memberitahu orang yang bertanya dan menjelaskan keterangan yang ada padanya dan apa yang mereka lihat bukan karena proses alamiah belaka melainkan karena Allah telah memerintahkan pada bumi untuk menjadi demikian.
  ••    
Pada hari terjadi gempa besar itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam (ada diantara mereka yang putih mukanya dan ada pula yang hitam dan sebagainya).
 Dengan kata lain mereka keluar dengan kelompok-kelompok yang terpisah-pisah. Setiap kelompok akan mengarah ke tempatn masing-masing (surge atau neraka). Dengan kata lain mereka keluar berbondong-bondong lalu diperlihatkan kepada mereka balasan amal sesuai yang mereka lakukan di dunia berdasarkan kitab/suhuf (catatan amal perbuatan semasa di dunia) yang mereka terima setelah melewati hisab.
             
 Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa semua amal akan diperhitungkan, tidak akan hilang sekalipun sangat sedikit. Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar dzarroh Allah akan memberikan balasan yang setimpal begitu pula untuk amal buruk. Dzarroh adalah semut yang paling kecil ada juga yang mengatakan debu yang bertebangan yang terlihat pada sinar matahari yang memasuki kamar. Jadi benar bahwa seluruh manusia akan menerima balasan yang setimpal dengan apa yang pernah ia lakukan di dunia. Disinilah Allah menunjukkan sifatnya Yang Maha Adil.





Fenomena Alam dalam QS. AL-Qaari’ah dan QS.Az-Zalzalah

Surat Al-Qaari’ah dan Surat Az-Zalzalah mempunyai kesamaan dan keterkaitan yang erat. Keduanya sama-sama menjelaskan fenomena alam pada saat terjadinya kiamat. Diantaranya hancurnya alam semesta, gunung meletus, gempa bumi, angin
ribut, badai dan lain-lain dalam waktu yang bersamaan dan maha dahsyat. Yang demikian dinamakan kiamat kubro.  Walau hal tersebut merupakan gambaran keadaan alam pada hari kiamat namun fenomena alam tersebut mungkin terjadi jauh sebelum kiamat itu terjadi, dengan tempat, skala dan rentang waktu yang tidak bersamaan.  Seperti banyak bencana-bencana alam yang sering kita saksikan, yang demikian dinamakan kiamat sughro.
Kedua surat tersebut seutuhnya adalah peringatan akan adanya keguncangan bumi dan alam semesta. Di dalamnya juga perintah untuk memperbanyak amal sholih dan tidak meremehkan amal sekecil apapun karena akan ada yaumul hisab.
Seluruh fenomena alam yang terungkap pada kedua ayat tersebut merupakan sunnatullah atau hukum alam yaitu hukum yang berlaku sesuai dengan kodrat alam. Sehingga seluruh yang ada di alam semesta ini mengikuti kehendak Allah, dan tak ada seorangpun yang mengetahui kapan berakhirnya kehidupan ini.







Hadis-hadis tentang Kelestarian Alam

Lestari artinya keberlangsungan, keberlanjutan. Kelestarian alam berarti tetap terjaganya keberlangsungan alam, sehingga keberlanjutannya dapat dirasakan oleh generasi sesudahnya.
Kita sebagai mahluk penghuni bumi saatini, pada dasarnya meminjam bumi ini kepada generasi sesudah kita. Oleh karenanya menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga dan melestarikannya, sehingga pada saatnya kita kembalikan dealam keadaan tetap utuh atau lebih baik.  Islam sangat memperhatikan hal tersebut sebagaimana tercermin dalam beberapa hadis berikut:

Hadis pertama,
قال رسول الله ص.م مَنْ أَحْيى أَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ  (رواه الترميذى)
Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa menghidupkan bumi yang mati maka (bumi) itu menjadi miliknya (HR. Tirmidzi)

Bumi yang mati pada hadis tersebut mempunyai beberapa makna. Yaitu bumi yang kering, tidak berair sehingga gersang tidak menumbuhkan tanaman. Dan bisa juga diartikan bumi yang tidak terawat sehingga tidak memberi manfaat/ tidak produktif dan tidak bertuan.
Rasulullah SAW menyatakan barang siapa yang mampu menghidupkan bumi yang mati itu maka bumi tadi menjadi miliknya. Dapat dipahami bahwa, barang siapa mampu menjadikan tanah gersang tadi menjadi produktif dan menghasilkan manfaat, maka ia berhak mendapatkan bumi tadi, dan itu akan menjadi miliknya.
Perlu dipahami, bahwa tanah dan bumi pada zaman Rasulullah SAW sangat luas dan lebih luas daripada jumlah penduduk pada saat itu. Sehingga sangat dimungkinkan banyak tanah yang tidak terawat tentunya tanah tersebut bukan hak milik siapa-siapa, sehingga Rasulullah SAW menyatakan orang yang merawatnya berhak menjadikan tanah tadi menjadi hak miliknya. Hal tersebut merupakan penghargaan bagi siapa yang peduli terhadap kelestarian lingkungan alam. Seseorang yang menghidupkan  bumi akan mendapatkan dua keuntungan yaitu mendapatkan hasil dari tanah yang diolah dan juga memperkecil terjadinya erosi atau pengikisan tanah yang dampaknya pasti akan bisa dirasakan oleh semua penduduk.

Hadis kedua
قال رسول الله ص.م: مَنْ حَفَرَ بِئْرًا فَلَهُ أَرْبَعُوْنَ ذِرَاعًا عَطَنًا لِمَاشِيَتِهِ (رواه ابن ماجه)

Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa menggali sumur maka ia berhak 40 hasta sebagai kandang ternaknya. (HR. Ibnu Majah)

Pada hadis tersebut, Rasulullah SAW menjanjikan hadiah khusus bagi siapa saja yang berupaya dan mengusahakan adanya air dengan menggali sumur, maka ia berhak atas sebidang tanah. Karena sumur merupakan sumber air dan kehidupan manusia. Penggalian sumur berarti dibuka sumber kehidupan bagi seluruh makhluk yang bernyawa termasuk juga hewan. Maka Rasulullah SAW memberi penghargaan bagi siapa yang peduli terhadap pengadaan air ini dengan diberikannya hak atas tanah disekitar sumur tersebut seluar 40 hasta atau seluas kurang lebih 1.258 m2.
Memahami hadis tersebut, perlu mengetahui konteks tempat dan zamannyya, dan keadaan saat beliau bersabda. Di jazirah Arab dan sekitarnya pada umumnya merupakan kawasan gersang dan tandus, tidak banyak kehidupan. Adanya air merupakan harapan kehidupan baru. Kita ingat kisah Nabi Ismail dan Hajar, ketika sebelum ada zam-zam, maka wilayah disekitarnya adalah tandus, tak berpenghuni. Namun setelah adanya karunia Allah (zam-zam), maka beransur-ansur manusia mulai berdatangan dan menetap di sana. Al hasil sekarang menjadi kota besar yang padat penghuninya (Makkah Al Mukarramah). Oleh karenanya siapapun yang berhasil membuat sumur, maka ia telah berjasa besar bagi kehidupan dan berarti ia berjasa kepada kelestarian alam.
Kata “sebagai kandang ternaknya” dalam hadis tersebut, memberikan motivasi kepada orang-orang yang memang pada saat itu banyak yang bermata pencaharian sebagai peternak, maka hadiah sebidang tanah untuk kandang ternak di dekat sumber air merupakan sesuatu yang menggembirakan.  Kalimat tersebut juga menjelaskan akan pentingnya menjaga kelestarian alam hewani, dengan membuat kandang di dekat sumur merupakan bukti kepedulian Islam untuk menjaga dan melestarikan hewan ternak. Oleh sebab itu, menjaga kelangsungan hidup hewani berarti juga menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri karena salah satu sumber makanan manusia juga diperoleh dari hewani selain berasal dari nabati.
Pada kedua hadis tersebut, kita dapat menangkap makna, seakan Rasulullah membuat sayembara terbuka, agar manusia termotivasi untuk memulai adanya kehidupan baru melalui pembukaan lahan baru dan penggalian sumur.

Hadis ketiga
نَهَى رَسُوْلُ الله ص.م عَنْ إِخْصَاءِ الْخَيْلِ وَ الْبَهَائِمِ (رواه أحمد)
Rasulullah SAW melarang mengebiri kuda dan binatang-binatang (HR. Ahmad)

Hadis ini, menjelaskan tentang menjaga kelestarian hidup binatang dengan larangan mengebirinya.
Mengebiri binatang adalah merekayasa sedemikian rupa terhadap mahluk hidup agar tidak dapat bereproduksi. Ada pengebirian binatang yang dilakukan dengan membuang sebagian organ reproduksinya ada juga yang tetap mengupayakan mengupayakan agar organ repruduksinya tetap utuh namun sedah tida berfungsi.
Pada zaman dulu pengebirian binatang dilakukan dengan tujuan agar binatang yang dikebiri dapat tumbuh dengan cepat dan gemuk, serta agar lebih kuat  fisiknya,  karena makanan yang dikonsumsi tidak disalurkan untuk reproduksi.
Islam melarang pengebirian semacam ini karena hal tertsebut menjadi salah satu sebab punahnya generasi bitang yang dikebiri (tidak lestari) dan berarti pula telah merampas naluri dasar suatu binatang, yaitu melestarikan generasinya.

Hadis keempat
أَنَّ النَّبِيَّ ص.م نَهَى صَيْرِ الرُّوْحِ وَ عَنْ إِخْصَاءِ الْبَهَائِمِ نَهْيًا شَدِيْدًا (رواه البزار)
Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang (seseorang) mengurung setiap yang bernyawa dan mengebiri binatang-binatang dengan larangan yang keras. (HR. Al-Bazzar)

 Pada  hadis ini, selain melarang mengebiri binatang, Islam juga peduli akan hal kebebasan binatang dengan melarang mengurungnya, sehingga mereka terlepas dari habitatnya.  Larangan mengurung binatang, karena hal tersebut bisa mengakibatkan binatang terampas kebebasannya, tidak mendapatkan makanan yang ia kehendaki, dan bisa merampas hak reproduksinya yang ujung-ujungnya bisa menjadi sebab kepunahannya.
Banyak manusia yang tidak memikirkan bahwa hewan pun bisa stres atau mengalami tekanan batin seperti halnya manusia karena terkurung dalam kandangnya. Apalagi dikurung hanya satu ekor tanpa pasangannya. Sebagaimana manusia hewan pun punya naluri untuk hidup berpasangan.
Beberapa pendapat muncul tentang hukum mengurung binatang menurut prespektif fiqh dengan berbagai syarat dan tingkatan. Karena memang tidak dapat dipungkiri. Pada kondisi tertentu apabila suatu binatang dibiarkan bebas di alam, justru akan terancam kelestariannya, sehingga diambil langkah untuk ditangkarkan dan dikembang biakkan dan pada saatnya akan dilepaskan ke alam bebas.
Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, manusia beternak  binatang tidak sebagaimana dilakukan pada jaman dulu. Dulu orang beternak hanhya beberapa jumlahnya, sedangkan sekarang seorang peternak memiliki ternak dengan jumlah yang besar, ribuan (tidak seperti dulu),untuk  memenuhi kebutuhan konsumsi manusia, seperti kebutuhan daging, telur, dan lain-lain. yang tidak dapat dipenuhi dengan beternak cara konvensional, dilepas dialam bebas, dengan jumlah yang terbatas. Melainkan dengan cara modern dan jumlah yang banyak, sehingga harus dikandangkan.




Mad Silah
Hukum bacaan mad  ini fokus kepada  dua hal yaitu ha’ dhomir/kata ganti  ( ــهُ \ ــهِ \  هُ \ هِ )   dan hamzah. Menurut bahasa, Mad artinya panjang, silah berarti hubungan.
Secara istilah mad silah adalah bacaan yang terjadi karena adanya ha’ dhamir yang tidak didahului sukun, tidak didahului bacaan panjang, tidak diikuti sukun, dan tidak diikuti hamzah.
Sekali lagi bacaan mad silah ini hanya terjadi pada ha’ dhamir. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua ha itu dhamir. Lebih jelasnya perhatikan kalimat yang mengandung ha’  pada tabel berikut!

dibaca Bukan
ha’ dhamir Ayat No
Panjang Pendek
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ 1
إِلاَّ ابْتِغآءَ وَجْهِ رَبِّهِ اْلأَعْلَى 2
فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى 3
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى 4
إِذَا جآءَ نَصْرُ اللهِ وَاْلفَتْحُ 5
كَلاَّ لاَ تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ 6
وَلاَ يُوْثِقُ وَثاَقَهُ اَحَدٌ 7
أَنْ جَآءَهُ اْلأَعْمَى 8
فَأَمَّا اْلإِنْسَانُ إِذَا مَاابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ 9
يشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَ 10

Dari tabel tersebut, dapat dipahami bahwa:
a. Tidak semua ha’ adalah dhamir.
b. Tidak semua dhamir termasuk mad silah.

Mad silah dibedakan menjadi dua
1. Mad silah qasirah (pendek), yaitu mad silah yang tidak diikuti hamzah. Dibaca panjang dua harakat /satu alif.
Contoh: 
   
  
2. Mad silah thawilah (panjang), yaitu mad silah yang diikuti hamzah, dibaca panjang limas harakat/ dua setengah alif.
Contoh: 
 •   
       
Mad Badal
Badal artinya, ganti . Dimanakan mad badal karena ada huruf mad (  و , ي ) menggantikan hamzah sukun.
Mad badal terjadi karena adnya hamzah berharakat fathah, dhummah, atau kasrah, bertemu hamzah sukun. Hamzah tersebut diganti dengan harakat  berdiri (    ).  Cara membacanya dipanjangkan dua harakat/ satu alif.
Contoh: 
    
       
Mad Tamkin
Tamkin artrinya penetapan, pemantapan, atau penguatan.
Mad tamkin adalah bacaan mad yang terjadi karena adanya yak sukun ( ي  ) didahului ya bertasydid dan berkasrah. Cara membacanya dengan menetapkan, memantapkan bunyi ya yang bertasydid dengan ditekan dan titahan..
Contoh:
 •     
  •       
Mad Farqi
 Menurut bahasa, farqi berarti pembeda. Maksudnya bacaan mad ini digunakan untuk membedakan antara kalimat tanya dan bukan kalimat tanya. Yang dibaca panjang (mad) adalah kalimat tanya. Sedangkan yang dibaca pendek (bukan mad), bukan kalimat tanya.
Panjang bacaan mad farqi ini adalah enam harakat/ tiga alif. Cara membacanya, dengan memanjangkan hamzah istifham (kata tanya) enam harakat lalu diidzghamkan kepada huruf berikutnya. 
Bacaan mad farqi tidak banyak dalam Al Qur’an, hanya ada pada beberapa tempat, misalnya:
Q.S. Al An’am 143, 144
   ...
        .... 






1. Ayat dan Hadis tentang memanfaatkan waktu
Islam menganjurkan agar manusia menmanfaatkan waktu dan kesempatan yang dimiliki sehingga ia tidak termasuk golongan orang yang  merugi. Hal itu tercantum dalam Q.S. ‘Ashr dan Rasulullah SAW juga menganjurkan agar manusia memanfaatkan kesempatan yang ia miliki. Diantaranya sebagai berikut:
ســـــــــــــــــــــورة العصر
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
  •              
Makna Lafdliyah
Terjemah Lafadz
demi masa وَالْعَصْرِ
manusia اْلإِنْسَانَ
kerugian خُسْرٍ
nasehat menasehati وَتَوَاصَوا
mentaati kebenaran بِالْحَقِّ
menetapi kesabaran. بِالصَّبْرِ

Terjemah lengkap
1.  Demi masa.
2.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Asbabun Nuzul
Banyak orang yang mengutuk waktu ‘Ashar. Mereka mengatakan bahwa waktu ashar adalah waktu yang celaka atau waktu nahaas. Menurut mereka banyak bahaya yang terjadi pada waktu Ashar.
Berkait dengan hal tersebut, turunlah Surah Al Ashr yang member penjelasan ashar tidak salah. Kesalahan sebenarnya adalah manusia yan menngunakan waktu tesebut untuk hal-hal yang tidak terpuji.






 
Pada ayat pertama,  Allah memulai surat ini dengan sumpah. Sebagaimana والشمس، والفجر، والضحى، والتين، Ketika manusia bersumpah atas nama Allah, maka Allah bersumpah atas nama makhlukNya. Hal tersebut disebabkan tidak ada selain Dia kecuali makhlukNya. Dan sumpah Allah demi masa ini menunjukkan bahwa waktu itu sangat penting sehingga Allah bersumpah dengannya. Sebagaimana sumpah manusia untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran, maka Allah pun meyakinkan manusia akan pentingnya sebuah waktu bagi manusia.
•    
Pada ayat kedua, “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” menunjukkan bahwa manusia banyak yang merugi. Sangat disayangkan bahwa kerugian manusia tersebut tidak banyak yang menyadarinya, sehingga Allah bersumpah akan hal tersebut untuk meyakinkan manusia bahwa mereka sungguh berada dalam kerugian. Kerugian apakah yang dialami manusia? Yang mereka alami adalah kerugian tidak dapat menggunakan waktu di dunia ini dengan sebaik-baiknya sesuai dengan petunjuk Islam.
         
Pada ayat ketiga, dijelaskan bahwa ada 3 syarat agar manusia tidak dikategorikan sebagai orang merugi. Yaitu beriman, mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Iman adalah syarat pertama manusia sebelum syarat yang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa iman merupakan hal mendasar yang tidak boleh dilupakan manusia. Keimanan akan sangat berpengaruh pada kehidupan setiap manusia. Siapapun yang memiliki keimanan yang kuat ia akan dapat mengamalkannya dalam keseharian, sehingga jika iman sudah di hati maka tidak mungkin manusia akan melupakan amal sholeh dan kebajikan, yaitu seluruh perbuatan baik yang tidak melanggar norma-norma ajaran Islam. Jadi, yang menjadi ukuran perbuatan baik dan buruk adalah yang sesuai dengan tuntunan Islam, bukan manusia. Iman dan amal shaleh adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Iman tanpa amal saleh berarti belum diaplikasikan dan amal shaleh tanpa iman tidak berarti di hadapan Allah.
Demikian surat ini menerangkan bahwa, semua manusia berada dalam keadaan merugi apabila dia tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan yanh baik.

Rasulullah SAW bersabda;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُسَبِيْلٍ وَكاَنَ ابْنُ عُمَرُ يَقُوْلُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَ مِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ (رواه البخاري)

Makna Lafdziyah

Terjemahan lafadz
Jadilah kamu di dunia ini كُنْ فِي الدُّنْيَا
asing غَرِيْبٌ
orang yang melewati suatu jalan.’ عَابِرِ سَبِيْلٍ
Apabila kamu berada di sore hari إِذَا أَمْسَيْتَ
kamu menunggu تَنْتَظِرِ
kamu berada di pagi hari أَصْبَحْتَ
sore الْمَسَاءَ
untuk menghadapi sakitmu لِمَرَضِكَ
untuk menghadapi matimu. لِمَوْتِكَ

Terjemah lengkap
Dari Abdullah bin Umar ia berkata: “Rasulullah SAW memegang kedua pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan.’ Ibnu Umar berkata.” Apabila kamu berada di sore hari janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi hari (datang).  Apabila kamu berada di pagi hari jangankah menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore (datang). Gunakan waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu. (HR. Bukhori)





Hadis tersebut menjelaskan tentang pentingnya waktu. Bahwa kita disuruh bersikap seperti orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. Ada juga yang mengartikan orang yang menyeberang jalan. Dengan demikian kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup di dunia ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah ketika dalam perjalanan. Tidaklah mungkin orang yang sedang menyeberang jalan, bersantai di tengah jalan sedang ia belum sampai seberang. Tidaklah mungkin orang yang sedang singgah di perjalanan akan asyik bersantai sedangkan perjalanan belum sampai ke tujuan. Kemanakah tujuan perjalanan kita? Akhirat. Akhiratlah tempat abadi kita.  Namun, ada  dua tempat yang mungkin kita tinggali di akhirat nanti, yaitu tempat mengerikan atau neraka, naudzubillah min dzalik. Dan tempat yang memuaskan atau surga, semoga kita termasuk salah satu penghuninya bersama orang-orang yang sholeh, Amin ya Allah.
Jika kita menginginkan tempat abadi yang memuaskan kelak, maka mestinya kita menyiapkan bekal kita, menggunakan waktu di perjalanan kita ini sebaik-baiknya. Jangan lengah ketika dalam perjalanan agar kendaraan kita tidak salah arah.  Hendaknya kita gunakan waktu kita dengan berbagai hal yang berguna yang tidak menyalahi aturan agama kita. Janganlah membuang waktu percuma dengan hal-hal yang dapat mengotori jiwa/rohani kita, yang dapat membuat kita menyesal kemudian.
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ
“jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi, dan jika engkau berada pada pagi hari, janganlah menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore hari. “ 
Betapa banyak menusia menunda melakukan sesuatu (yang berguna) atau pekerjaannya atau kewajibannya pada waktu tertentu. Mereka terbiasa menundanya sampai mereka mau melakukannya. Mereka merasa masih banyak waktu untuk bisa melakukannya. Inilah penyakit waktu yang banyak menjangkiti manusia. Tidak hanya dewasa, seorang remaja atau pelajar pun juga sudah banyak yang mengidapnya. Seharusnya, seorang pelajar berusaha membiasakan diri untuk melakukan kewajibannya sebaik-baiknya. Mestinya seorang pelajar juga berusaha untuk berdisiplin memanfaatkan waktu dan memanfaatkan kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله ص م: إغتنمْ خمْسًا قبْلَ خَمْس: شَبابَكَ قبْا هَرَمكَ, وَصحتَكَ قبْلَ سقَمكَ, وَفرَاغكَ قبْلَ شُغْلكَ, وَغنَاك قبْلَ فَقْركَ, وَحيَاتَكَ قَبْل مَوْتكَ (روه الحاكم والبيهقي)

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: Manfaatkan lima keadaan sebelum datang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa sempatmu sebelum masa sempitmu, masa kayamu sebelum datangnya fakirmu, dan masa hidupmu sebelum datangnya matimu. (H.R. Al Hakim dan Al Baihaki)

Pada hadis tersebut dijelaskan,  bahwa kita harus mewaspadai lima hal, yaitu: masa muda, masa sehat, masa sempat, masa kaya, dan masa hidup. Semua hal tersebut  merupakan modal utama setiap manusia untuk mencapai keberhasilan, termasuk dalam mencari ilmu. Sebagaimana atsar dari Imam Ali Karramallahu wajhah. bahwa ada emam hal yang dibutuhkan seseorang dalam mencari ilmu, salah satunya adalah waktu.


2. Ayat dan Hadis tentang Pentingnya Ilmu
ســـــــــــــــــــــورة العلق
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
                        

Makna Lafdziyah

Terjemahan lafadz
Bacalah 
dengan (menyebut) nama Tuhanmu  
yang Menciptakan  
 manusia. 
 segumpal darah. 
Maha pemurah, 
dengan perantaran kalam 
apa yang tidak diketahuinya   


Terjemah lengkap
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Asbabun Nuzul
Pada awal kerasulan Muhammad , beliau berkhalwat  (meningalkan keramaian) di Goa Kira. Setelah beberapa hari beliau menerima wahyu yang pertama Surat Al ‘Alaq 1-5. Dalam keadaan kedingingan,  beliau menemui Khadijah dan menceritakan yang telah terjadi. Waraqah bin Naufal adalah pendeta yang menjelaskan bahwa itu adalah peristiwa kenabian, sebagaimana terjadi pada nabi-nabi sebelumnya.






Surat Al-Alaq 1-5 merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang dalam kajian Ibnu Katsir dikatakan sebagai rahmat dan nikmat pertama yang dianugerahkan Allah SWT kepada para hamba-Nya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/236). Dan inilah pula yang menandai penobatan beliau sebagai Rasulullah, utusan Allah, kepada seluruh umat manusia. Wahyu inilah yang menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya ayat tersebut maka berubahlah garis sejarah umat manusia. Berubah dari kehidupan jahiliyah nan gelap dalam semua aspek, termasuk di dalamnya kegelapan ilmu pengetahuian, menjadi terang benderang. Sejak saat itu, penduduk bumi hidup dalam keharibaan dan pemeliharaan Allah SWT secara langsung. Mereka hidup dengan terus memantau ajaran Allah yang mengatur semua urusan mereka, besar maupun kecil. Dan perubahan-perubahan itu ternyata diawali dengan "Iqra" (bacalah). Perintah membaca di sini tentu harus dimaknai bukan sebatas membaca lembaran-lembaran buku, melainkan juga membaca ‘buku’ dunia. Seperti membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Membaca diri kita, alam semesta dan lain-lain. Berarti ayat tersebut memerintahkan kita untuk belajar dari mencari ilmu pengetahuan serta menjauhkan diri kita dari kebodohan.
Namun membaca yang mampu membawa kepada perubahan positif bagi kehidupan manusia bukanlah sembarang membaca, melainkan membaca ‘dengan menyebut nama Allah Yang Menciptakan’  اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah, bahwa surat ini adalah surat pertama dari Al Qur’an, maka ia dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah. Dan Rasulullah SAW pertama kali melangkah dalam berhubungan dengan Allah dan pertama kali menapaki jalan da’wah dengan Bimillah: "Iqra’ bismi rabbik". (Tafsir Fi Zhilal Al Qur’an)
Dengan demikian dalam makna yang lebih luas, ayat pertama merupakan perintah untuk mencari ilmu, ilmu yang bersifat umum baik ilmu yang menyangkut ayat-ayat qauliyah (ayat Al Qur’an) dan ayat-ayat kauniyah (yang terjadi di alam). Ayat qauliyah ialah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang berupa firmanNya, yaitu Al-Quran. Dan ayat-ayat kauniyah ialah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang berupa keadaan alam semesta.
          
Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga)pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Az-Zariyat 20-21) 
        
Ayat kedua, Allah menyatakan bahwa manusia dicipta dari segumpal darah. Allah SWT sendiri juga telah menegaskan bahwa manusia dicipta sebagai sebaik-baik ciptaan  dan tidak ada makhluk yang dianugerahi wujud dan fasilitas hidup yang menyamai manusia. Allah menganugerahi manusia berupa akal pikiran, perasaan, dan petunjuk agama. Semua itu menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Yang demikian itu, diharapkan manusia bersyukur kepada Allah dengan menaati semua perintah dan menjauhi semua laranganNya. 
Dalam kaitannya dengan kewajiban menuntut ilmu, ayat kedua juga memberi petunjuk kepada manusia untuk mengenal dirinya secara jelas, yaitu mengetahui asal kejadiannya. Hal tersebut terungkap dalam QS. Al-Mukminun 12-14.
         
Ayat keempat, Allah SWT mengajar manusia dengan pena. Maksudnya dengan pena manusia dapat mencatat berbagai cabang ilmu pengetahuan, dengan pena manusia dapat menyatakan ide, pendapat dan keinginan hatinya dan dari pena manusia juga mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan baru.
Pada ayat kelima, Allah mengajar manusia apa yang tidak/belum diketahuinya. Manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Secara perlahan, Allah memberikan manusia kemampuan melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya, sehingga dengan kemampuannya itu manusia mampu mencapai cabang ilmu baik ilmu agama maupun ilmu yang lain bahkan ilmu yang mungkin langsung diberikan oleh Allah kepada beberapa orang yang dikehendaki tanpa melalui belajar (ilmu laduni).
Demikian, Allah telah menerangkan bahwa manusia manusia dicipta dari benda yang tidak berharga kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis, dan memberinya pengetahuan.

Rasulullah SAW. Bersabda:
عَنْ أَنَس بْنِ مَالِك قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م : طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ (رواه ابن ماجة)
Makna Lafdziyah

Terjemahan lafadz
mencari ilmu ilmu طَلَبُ الْعِلْمِ
memberikan وَوَاضِعُ
bukan ahlinya غَيْرِ أَهْلِهِ
seperti orang yang mengalungi كَمُقَلِّدِ
babi الْخَنَازِيْرِ
permata اللُّؤْلُؤَ
mutiara وَالذَّهَبَ
emas. الْجَوْهَرَ


Terjemah Lengkap
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ”mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas. (HR.Ibnu Majah)





Hadis tersebut di atas adalah salah satu dari sekian banyak hadis yang berbicara tentang menuntut ilmu.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim. potongan hadis ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam. Banyak yang meriwayatkan hadis ini dengan sedikit perbedaan pada matan hadis dan tingkatan hadisnya. Ada yang meriwayatkan dengan ditambah kalimat wal muslimat. Namun semua tetap sependapat bahwa hadis ini sebagai dasar kuat bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim

وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ  (رواه ابن ماجة)
Memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas. Meletakkan ilmu maksudnya menimba ilmu, kepada orang yang bukan ahlinya adalah perbuatan sia-sia. Menimba ilmu kepada orang yang tidak punya kemampuan di bidangnya adalah perbuatan sia-sia. Sebagai contoh, ketika kita ingin mempelajari cara-cara merangkai listrik, maka lebih tepat kita menanyakannya pada guru bidang studi fisika. Begitu juga ketika kita ingin mengetahui lebih dalam tentang cara bermain musik, lebih tepat jika kita berguru pada orang yang ahli di bidang itu. ketika kita ingin menulis sebuah artikel, buku, atau karya tulis ilmiah, maka alangkah baiknya kita berguru dan berkonsultasi pada orang yang mempunyai kemampuan di bidang bahasa Indonesia.
Hadis tersebut mengibaratkan seseorang yang menimba ilmu kepada yang bukan ahlinya seperti orang yang bertaqlid (mengikuti tampa apa adanya, tanpa kritik). babi yang diberi pakaian permata, mutiara dan emas. Kita semua tahu, bahwa babi adalah binatang yang kotor dan hukumnya najis. Meski ia berkalungkan permata, mutiara ataupun emas, ia tetap saja binatang yang kotor dan menjijikkan serta hukumnya dan najis, tidak berubah menjadi suci.
Subhaanallah, betapa Islam sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Betapa banyak ayat-ayat yang membahas pentingnya ilmu pengetahuan. dan bukan hanya Al-Qur’an. Rasulullah SAW banyak member motivasi kepada  umat Islam agar senantiasa mencari ilmu. Diantaranya;.

عنْ انَس بنْ مَلك قال: قال رسُولُ الله صلَّى الله عليْه وسلَّم .منْ خرَج في طَلبِ العلْمِ كانَ في سَبيْل الله حَتَّى يرْجعَ. رواه الترميذى
Dari Anas bin Malik, ia berkata,’ Rasulullah SAW. Bersabda, Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingg ia kembali (ke rumahnya).  (HR. At Tirmidzi)

يَا أَبَا ذَرِّ لأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةً (رواه ابن ماجة)
Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah di pagi hari untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah itu lebih baik daripada engkau mengerjakan sholat seratus rakaat (HR. Ibnu Majah)

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِي  فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ الله بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةَ وَإِنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ (رواه الترميذى)
Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena senang (terhadap apa yang diperbuat) (HR. Tirmidzi dari Abi Dardak)

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : أَنَّ رَسُوْلَ الله ص.م قَالَ : وَ مَنْ تَعَلَّمَ فَعَمِلَ عَلَّمَهُ الله مَالَمْ يَعْلَمْ (رواه ابو شيخ)
Dari Ibnu Abas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “barang siapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaih)

 Demikian beberapa hadis Rasulullah SAW, yang  berisi motivasi kepada setiap pencari ilmu.




Mad lazim
Kata mad artinya “bacaan panjang”, sedangkan kata lazim  artinya ‘biasa, wajar, pasti’. Sehingga  Mad Lazim, menurut bahasa  bias dimaknai dengan ‘bacaan yang meski dibaca panjang. Panjang bacaannya adalah 6 harokat atau tiga alif.
Mad lazim ini dibedakan menjadi dua, yaitu mad lazim Mutsaqqal (diberatkan) dan mad lazim Mukhaffaf (diringankan). Untuk lebih lengkap dan lebih jelasnya kita perhatikan uraian berikut:

3. Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi
 Menurut bahasa, mad  lazim mutsaqqal kilmi adalah kalimat yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan diberatkan.
.
Jadi ada dua syarat suatu kalimat disebut bacaan mad lazim mutsaqqal kilmi, pertama, bacaan mad bertemu huruf bertasydid kedua, huruf yang bertasydid tersebut harus berada dalam satu kata.

Menurut istilah adalah kalimat yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan diberatkan, karena ada huruf mad yang diiringi dengan huruf berharokat tasydid dalam satu kata, cara membacanya diberatkan sebab diidghamkan
Contoh:      وَلاَ الضَّالِّيْنَ،  كَافَّة ،  اَلْحـَــاقَّة

4. Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi
Menurut bahasa, mad lazim mukhaffaf kilmi adalah kalimat yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan diringankan.
Menurut istilah adalah kalimat yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan diringankan karena ada huruf mad yang diiringi huruf berharakat sukun dalam satu kata dan tidak diidghamkan.
Dalam Al-Quran yang merupakan contoh hukum bacaan ini hanya ada satu kata yaitu آلآن  . Dalam Al Qur’an bacaan ini tidak banyak, hanya ada pada beberapa tempat diantaranya tempat, Surat Yunus ayat 51 dan 91, lafalnya
أَثُمَّ إِذَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ الْـئنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُوْنَ (يونس:51)
الئن وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ (يونس:91)

5. Mad Lazim Mutsaqqal Harfi
 Hukum bacaan mad lazim musaqqal harfi ini terjadi pada fawatihussuwar (huruf awal/pembuka surah). Tentu masih diingat tentang hukum bacaan mad lazim musaqqal, ciri utamanya adalah adanya mad yang bertemu tasydid atau diidzghamkan. Karena terjadi pada fawatihussuwar, maka disebut mad lazim musaqqal harfi.
Jadi mad lazim musaqqal harfi adalah huruf yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan diberatkan, karena ada mad pada fawatihussuwar yang diiringi dengan huruf berharokat tasydid, cara membacanya diberatkan sebab diidghamkan.
Contoh:
   ,     ,  
6. Mad Lazim Mukhaffaf Harfi
Mad lazim musaqqal harfi adalah huruf yang wajib dibaca panjang (6 harakat/6 alif) dan dibaca ringan, karena ada mad pada fawatihussuwar yang tidak diiringi dengan huruf berharokat tasydid, cara membacanya diringankan sebab tidak diidghamkan.
Contoh:
    ,    ,    
Demikian uraian yang berkaitan dengan hukum bacaan mad lazim, baik mukhaffaf kilmi, musaqqal kilmi, mukhaffaf harfi, dan musaqqal harfi.